Krisis bahan bakar terjadi di Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), setelah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Pante Cermin terpaksa menghentikan operasional.
Pengawas SPBU Pante Cermin, Musyawir, mengatakan, penyebabnya penghentian penyaluran BBM karena mesin genset SPBU mengalami kerusakan, sementara pasokan listrik di wilayah tersebut masih padam akibat bencana banjir.
“Dikarenakan listrik masih padam di beberapa titik termasuk SPBU Babahrot, sementara khusus SPBU Babahrot tempat kita genset dalam masa perbaikan sudah beberapa hari. Jadi belum bisa beroperasi. Tapi untuk Kedai Paya lancar seperti biasa,” kata Musyawir.
Ia memastikan bahwa suplai BBM dari Pertamina tetap berjalan normal dan tidak terganggu meski Aceh sedang dilanda bencana.
“Dari Pertamina tidak ada kendala, pengiriman sesuai jadwal. Kalau ada kurang lancar pun disebabkan ada musibah yang kita alami sama-sama yaitu banjir diseputaran Alue Bilie,” tuturnya.
Harga BBM Naik Drastis, Warga Panik
Sebelumnya diberitakan, penutupan SPBU tersebut langsung memicu kelangkaan BBM di Babahrot. Dalam waktu singkat, harga BBM di tingkat pengecer naik tajam hingga tidak masuk akal. Pertalite dan Pertamax dijual Rp30 ribu per liter, sementara bensin dalam botol 1,5 liter mencapai Rp50 ribu.
Kondisi ini semakin memperburuk situasi warga yang tengah menghadapi banjir dan membutuhkan bahan bakar untuk mobilisasi evakuasi, perahu mesin, kendaraan logistik, hingga alat darurat lainnya.
Seorang tokoh masyarakat Babahrot, Yusran, menilai situasi ini sangat merugikan warga dan menyayangkan SPBU yang tidak beroperasi pada masa darurat.
“Ini sangat memprihatinkan. Apalagi situasinya sedang darurat banjir. Dengan SPBU berhenti menyalurkan BBM, harga eceran langsung melambung,” ujar Yusran.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi membuka ruang bagi praktik penimbunan BBM atau permainan harga oleh oknum tertentu.
“Kami minta pihak berwenang turun tangan. SPBU Babahrot harus ditegur atau ditindak bila terbukti melanggar aturan. Jangan sampai masyarakat jadi korban ketika mereka sedang kesulitan,” tegasnya.
Warga Menunggu Solusi
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan Pertamina segera mengambil langkah cepat agar distribusi BBM kembali normal. Perbaikan genset SPBU juga diharapkan dipercepat untuk mencegah lonjakan harga semakin liar dan memperburuk keadaan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan lanjutan dari pihak Pertamina maupun instansi terkait mengenai kapan SPBU tersebut akan kembali beroperasi. (*)
Editor: T. Rahmat
