KETIK, ACEH SINGKIL – Wisata ke Subulussalam, belum lengkap rasanya bila tidak mampir untuk menikmati si pedas pelleng, kuliner khas asli daerah Pak-Pak Barat, di Puncak Kayu Kapur cafe Kedabuhen.
Selain nikmatnya pelleng, pengunjung juga turut dimanjakan dengan suasana alam yang asri di sekitar cafe.
Habitat kayu kapur yang hampir punah, masih terlihat berdiri beberapa tegakan dari kejauhan di sekitar Kedabuhen Kota Subulussalam.
Rahman, pemilik kedabuhen cafe mengatakan ide pendirian rumah makan di alam terbuka menjadi tantangan tersendiri.
"Konsepnya, kita ingin memanjakan pengunjung di alam terbuka yang dikelilingi kayu-kayu rindang dengan suguhan kuliner pelleng yang bercita rasa pedas di lidah," katanya, Senin, 12 Januari 2026.
"Menu favorit kita pelleng. Namun suguhan ayam geprek, cinaru pote, nasi goreng, ditambah aneka jus, kopi dan teh panas juga tersedia," sambungnya.
Khusus pelleng, biasanya harga yang dipatok untuk satu porsi yaitu Rp30 ribuan. "Bahan utama pelleng berupa nasi kuning, dan ayam kampung diracik cita rasa pedas," ucapnya.
"Biasanya yang lebih banyak berkunjung ke sini menikmati lezatnya pelleng adalah pelanggan asal Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, Singkil. Ada juga dari seputaran Subulussalam, dan warga yang kebetulan melintas ke wilayah Sumut," tegasnya.
Bukan hanya pelanggan biasa yang mampir, Rahman, juga mengatakan bahwa pegawai Pemkot Subulussalam kerap memesan room meeting di lantai dasar untuk rapat-rapat tertentu, sekaligus minta disediakan menu makanan dan minuman.
Room meeting yang disediakan masih berukuran kecil, dengan kapasitas antara 20 sampai 25 orang. "Rapat seakan di alam terbuka dengan latar belakang tegakan kayu yang rindang jelas sangat press untuk bermusyawarah," sebutnya.
"Kita juga melayani menu makanan atau minuman sesuai request, mereka pesan sop kepiting atau udang lobster sambal, insyaallah juga kita sediakan," tandasnya.(*)
