KETIK, SLEMAN – Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Kantor Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Senin pagi, 19 Januari 2026.
Sebanyak 200 orang menjadi saksi prosesi serah terima ubarampe atau perlengkapan upacara adat Hajad Dalem Labuhan Merapi.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi kali ini menyandang status Labuhan Ageng, sebuah siklus delapan tahunan yang digelar karena bertepatan dengan Tahun Dal dalam penanggalan Jawa.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 13.30 WIB ini menandai dimulainya rangkaian peringatan Tingalan Dalem Jumenengan atau bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang ke-37.
Makna Spiritual Labuhan Ageng
Utusan Keraton Yogyakarta, Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Widyawinata, menegaskan pentingnya prosesi ini dalam tatanan tradisi Jawa. Ia menyampaikan puji syukur atas rahmat dan karunia Tuhan sehingga seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana dengan lancar.
Menurutnya, kegiatan serah terima uborampe merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dilakukan atas perintah langsung atau dhawuh Sinuwun.
"Upacara Labuhan ini dilaksanakan dalam rangka Hajat Dalem Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang rangkaiannya berlangsung di Keben Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Meskipun dilaksanakan setiap tahun, tahun ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan 30 Rajab atau Tingalan Jumenengan Dalem ke-37, yang jatuh pada Tahun Dal sehingga digelar Labuhan Ageng," terang KMT Widyawinata.
Ia menambahkan bahwa esensi dari prosesi Labuhan merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan rakyat Yogyakarta. Melalui ritual ini, doa dipanjatkan agar Sri Sultan, Karaton, dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.
Kelengkapan Ubarampe dan Dukungan Pemerintah
Sebagai Labuhan Ageng, ubarampe yang diserahkan jauh lebih lengkap dibanding labuhan tahunan biasa. Kelengkapan tersebut meliputi kain sakral Nyamping Limar, Nyamping Cangkring, Semekan Gadung Melati, Semekan Gadung, Destar Doro Muluk, hingga Panigset Udorogo.
Diserahkan pula Ses Wangen, Selo, Ratus, serta Lisah Konyoh. Ciri khas utama dalam Tahun Dal ini adalah disertakannya Kambil Watangan, yakni pelana kuda yang terbuat dari kayu.
Usai diterima secara formal oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, ubarampe Hajad Dalem Labuhan Ageng Gunung Merapi selanjutnya diserahkan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedono Surakso Hargo (Asih), untuk di bawa ke Dusun Kinahrejo, Cangkringan. Perlengkapan sakral ini disemayamkan semalam sebelum dibawa ke Srimanganti di tubuh Merapi pada Selasa pagi untuk prosesi ritual labuhan dan doa keselamatan. (Foto: Lik Is for Ketik.com)
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang menerima langsung perlengkapan tersebut, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung penuh hajad dalem ini sebagai upaya nguri-uri budaya adiluhung.
"Kami ikut mendoakan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan khidmat. Ini adalah wujud rasa syukur atas nikmat kesuburan tanah dan perlindungan bagi masyarakat Sleman," tutur Harda.
Dukungan serupa disampaikan Panewu Cangkringan, Tamzis Sarwana, yang berharap kegiatan ini membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi warga, terutama mereka yang tinggal di lereng Merapi.
Puncak Ritual di Srimanganti
Usai seremoni di Kapanewon, iring-iringan pembawa ubarampe bertolak menuju Petilasan Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo. Di sana, suasana meriah tercipta melalui pertunjukan fragmen seni dan tradisi rayahan gunungan oleh masyarakat sekitar.
Seluruh perlengkapan kini telah berada di tangan Juru Kunci Gunung Merapi. Rangkaian Hajad Dalem ini akan mencapai puncaknya pada Selasa pagi, 20 Januari 2026. Pada pukul 06.00 WIB para abdi dalem akan membawa ubarampe tersebut mendaki menuju pos Srimanganti di lereng Merapi untuk menggelar puncak ritual labuhan dan memanjatkan doa keselamatan, mempertegas harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (*)
