KETIK, YOGYAKARTA – Suasana spiritual di jantung kota suci Makkah mendadak berubah menjadi lebih intens saat jarum jam menunjukkan pukul 00.30 waktu setempat pada Selasa dini hari 10 Maret 2026. Lautan jemaah dari berbagai belahan dunia tampak mengalir deras menuju Masjidil Haram, menandai dimulainya perburuan keberkahan pada sepuluh malam terakhir Ramadan 1447 Hijriah.
Begitu juga yang terjadi pada Rabu dini hari 11 Maret 2026. Keheningan malam tersebut pecah oleh lantunan ayat suci Al-Quran yang dibawakan secara tartil oleh Imam Masjidil Haram, mengawali rangkaian salat Tahajud atau Qiyamul Lail yang menjadi magnet utama bagi umat Islam di penghujung bulan suci Ramadan 1447 H ini.
Memasuki fase pamungkas Ramadan ini, pola peribadatan di Masjidil Haram mengalami penyesuaian signifikan dibandingkan malam-malam sebelumnya. Jika pada awal hingga pertengahan bulan jemaah melaksanakan salat Tarawih sebanyak sepuluh rakaat diikuti tiga rakaat witir, kini intensitas ibadah meningkat dua kali lipat.
Setelah menuntaskan salat tarawih usai salat Isya pada awal malam. Usai istirahat kurang lebih dua setengah jam kemudian para jemaah kembali berdiri dalam saf-saf yang rapat untuk menunaikan sepuluh rakaat Tahajud yang dilaksanakan dengan format dua rakaat sekali salam, lalu ditutup dengan tiga rakaat witir sebagai pemungkas rangkaian ibadah malam pada kisaran pukul 02.30 waktu setempat.
Gelombang jemaah memadati jalur utama Ibrahim Al Khalil menuju Masjidil Haram, Makkah, di bawah cuaca cerah pada sepuluh hari terakhir Ramadan 1447 H, Selasa, 10 Maret 2026. Sejak siang hari, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia mulai berbondong-bondong memadati kawasan suci untuk melaksanakan iktikaf dan mengamankan tempat guna mengikuti rangkaian salat Tarawih serta Tahajud berjemaah. (Foto: Fajar Rianto/Ketik.com)
Pemandangan di area Mataf hingga perluasan masjid menunjukkan kepadatan yang luar biasa namun tetap tertib. Arus jemaah tidak hanya memadati bagian dalam bangunan, tetapi juga meluber hingga ke halaman luar dan koridor-koridor jalan menuju masjid.
Di bawah sorotan lampu menara yang megah, lautan manusia bersujud dalam harmoni yang sunyi, menciptakan atmosfer emosional yang kuat. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menahan air mata saat doa-doa panjang dipanjatkan, berharap dapat meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar yang diyakini terselip di antara malam-malam ganjil terakhir ini.
Andi, seorang jemaah asal Gresik, Jawa Timur, yang sedang menjalankan ibadah umrah, mengaku merasakan getaran batin yang sangat berbeda saat mengikuti salat malam di pusat kiblat dunia tersebut. Menurut Andi, energi spiritual di Masjidil Haram memberikan kekuatan tambahan yang luar biasa. Ia merasa haru yang mendalam saat bisa bersujud bersama jutaan orang dari berbagai bangsa, semuanya luruh dalam doa yang sama di sepuluh malam terakhir ini.
"Meskipun fisik terasa lelah karena aktivitas ibadah yang hampir tanpa jeda dari Tarawih hingga Tahajud, energi spiritual di Masjidil Haram ini seolah memberikan kekuatan tambahan yang luar biasa. Ada rasa haru yang mendalam saat bisa bersujud bersama jutaan orang dari berbagai bangsa, semuanya luruh dalam doa di sepuluh malam terakhir ini," ujar Andi saat ditemui di pelataran masjid.
Meningkatnya jumlah jemaah dari berbagai negara ini membuat otoritas setempat memperketat pengamanan dan mengatur alur masuk guna memastikan kelancaran ibadah di pusat kiblat umat Islam tersebut. (Foto: Fajar Rianto/Ketik.com)
Kondisi jemaah yang membeludak ini juga menjadi perhatian para pembimbing ibadah di lapangan. Ustaz Hendra Firmansah, seorang pembimbing umrah asal Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa antusiasme jemaah tahun ini sangat tinggi terutama untuk mengejar keutamaan sepuluh malam terakhir.
Ia menjelaskan bahwa tugas pembimbing menjadi lebih krusial untuk memastikan jemaah tetap dalam kondisi bugar dan tidak terpisah dari rombongan di tengah lautan manusia yang memadati area Masjidil Haram. Ustaz Hendra terus mengingatkan jemaah yang di pandunya agar menjaga ritme istirahat agar tetap prima saat melaksanakan rangkaian salat malam yang cukup panjang.
"Tugas kami memastikan jemaah tetap dalam kondisi bugar dan tidak terpisah dari rombongan di tengah lautan manusia. Kami terus mengingatkan jemaah agar menjaga ritme istirahat agar tetap prima saat melaksanakan rangkaian salat malam yang cukup panjang," kata Ustaz Hendra menjelaskan tantangan di lapangan.
Guna mengimbangi lonjakan jemaah tersebut, Otoritas Umum untuk Pengelolaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi telah mengerahkan seluruh sumber daya operasional mereka. Sistem pendingin udara, pencahayaan, serta tata suara dipastikan bekerja maksimal untuk menjaga kenyamanan jemaah di tengah cuaca Makkah yang khas. Selain itu, petugas kebersihan bekerja tanpa henti melakukan sterilisasi dan penyemprotan wewangian di setiap sudut masjid.
Distribusi air Zamzam juga diperluas ke berbagai titik akses, baik dalam suhu dingin maupun normal, agar jemaah dapat dengan mudah melepas dahaga usai berbuka puasa hingga menjelang adzan Subuh.
Manajemen alur keluar masuk jemaah juga menjadi fokus utama otoritas setempat guna menghindari penumpukan di pintu-pintu utama. Jalur khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas dioptimalkan dengan ketersediaan eskalator serta lift yang berfungsi penuh untuk menjamin mobilitas.
Dengan segala kesiapan fasilitas dan kedalaman makna spiritual yang ditawarkan, sepuluh malam terakhir di Makkah tahun ini benar-benar menjadi oase bagi para pencari kedamaian jiwa yang datang dari seluruh penjuru bumi untuk memaksimalkan ibadah itikaf dan salat malam mereka. (*)
