Bupati Harda Kiswaya di Peringatan Nuzulul Quran: Al-Quran Adalah Benteng Hadapi Ketidakpastian Dunia

7 Maret 2026 09:00 7 Mar 2026 09:00

Thumbnail Bupati Harda Kiswaya di Peringatan Nuzulul Quran: Al-Quran Adalah Benteng Hadapi Ketidakpastian Dunia

Ketakwaan tidak berhenti pada ibadah ritual, ia harus berbuah pada aksi sosial. Bupati Sleman Harda Kiswaya mengajak seluruh masyarakat untuk menggiatkan kepedulian dan menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari pada peringatan Nuzulul Quran 1447 H di Masjid Agung dr. Wahidin Sudirohusodo. (Foto: Prokompim Sleman for Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Di tengah riuh rendah perkembangan teknologi dan dinamika sosial ekonomi yang kian tak menentu, Pemerintah Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk kembali ke "kompas" utama: Al-Quran. Pesan ini menjadi ruh dalam peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Agung dr Wahidin Sudirohusodo, Sleman, Jumat, 6 Maret 2026.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan bahwa peringatan turunnya Al-Quran setiap 17 Ramadan bukan sekadar seremoni tahunan atau penggugur kewajiban protokoler. Ia menyebut kitab suci sebagai benteng bagi umat manusia dalam menghadapi fenomena dunia yang kian membingungkan.

“Saat ini kita dihadapkan pada situasi yang membingungkan dan menguji. Al-Quran harus tetap menjadi penuntun utama agar kita tetap berada di jalan yang lurus,” ujar Harda di hadapan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Forkopimda Sleman.

Melampaui Ritual Kesalehan

Dalam kesempatan ini, Bupati Harda menyoroti fenomena kesalehan yang seringkali hanya berhenti di meja ibadah ritual. Ia mendorong jamaah untuk menarik makna ketakwaan ke ranah sosial yang lebih konkret. Baginya, indikator keberhasilan berinteraksi dengan Al-Quran adalah munculnya sikap jujur, amanah, dan tanggung jawab dalam pelayanan publik maupun kehidupan bermasyarakat.

"Saya mengajak seluruh jemaah untuk menggiatkan kegiatan sosial yang murah hati. Manfaatkan Ramadan ini untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus kepedulian pada kesejahteraan sesama," tambahnya.

Refleksi 'Zikrul Maut'

Acara yang menghadirkan KH Imam Syafi'i sebagai penceramah ini ditutup dengan pesan reflektif dari sang Bupati mengenai manajemen waktu dan kematian (zikrul maut). Bupati Harda mengingatkan bahwa di tengah kesibukan duniawi, setiap manusia sedang mengantre menuju titik akhir yang rahasia.

Ia mengibaratkan iman dan amal kebaikan sebagai "dua tiket" mutlak untuk masa depan yang kekal. “Ajal tidak pernah tahu kapan datangnya. Mari kita persiapkan tiket itu sebelum datang waktu sakit dan sempit kita,” pungkasnya.

Peringatan Nuzulul Quran tahun ini pun menjadi momentum bagi jajaran Pemkab Sleman untuk merefleksikan kembali peran birokrasi yang tidak hanya melayani secara administratif, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sleman Harda Kiswaya Nuzulul Quran Pemkab Sleman Ramadan 1447 H Masjid Agung Sleman Berita Sleman Al Qur'an Ketakwaan Sosial keagamaan Yogyakarta KH Imam Syafi'i Syiar Islam Ramadhan 2026 Protokol Sleman Kerukunan Umat Beragama ibadah Ramadan Zikrul Maut kebijakan publik Forkopimda Sleman