KETIK, TUBAN – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari, tepatnya di Satuan Pelayanan Pemberian Gizi (SPPG) Ngrojo 2 Bangilan, Kabupaten Tuban, menjadi sorotan.
Sejumlah wali murid mengeluhkan kondisi menu puding yang cair serta ketidakpastian jadwal pembagian makanan "rapelan" selama Ramadan.
Penerima manfaat melaporkan bahwa paket puding senilai Rp3.000 untuk konsumsi Jumat dan Sabtu dibagikan yang dibagikan hari ini dalam kondisi cair atau tidak memadat. Hal ini memicu kekhawatiran terkait aspek higienitas dan kelayakan konsumsi, terutama untuk anak-anak.
"Kami merasa ragu dan khawatir memberikan puding tersebut kepada anak-anak. Sudah kami imbau kepada orang tua lainnya agar tidak dikonsumsi," ujar salah satu wali murid kepada Ketik.com, Sabtu 7 Maret 2026.
Wali murid juga seorang pengajar tersebut menegaskan pentingnya quality control dari dapur SPPG agar anggaran negara yang dialokasikan benar-benar memberikan dampak gizi optimal, bukan justru berisiko bagi kesehatan anak sekolah.
Selain kualitas makanan, pola distribusi juga dipertanyakan. Jika biasanya skema rapel dilakukan di awal (Kamis-Jumat dibagikan hari Kamis), SPPG Ngrojo 2 justru melakukan rapel untuk Jumat-Sabtu yang baru dibagikan pada Sabtu ini.
"(Dapur) Lainnya Kamis-Jumat dibagi Kamis. Iki (SPPG ini) Jumat Sabtu di bagi hari ini," sambungnya.
Kritik lain datang dari tenaga pendidik di wilayah Bangilan berinisial S. Sebagai guru dirinya menilai kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang tetap memaksakan penyaluran paket MBG di bulan Ramadan terkesan kurang efektif dan berpotensi menjadi makanan mubazir yang tidak termakan.
"MBG selama bulan Ramadan ini kurang pas, mubazir tapi mau apalagi yang inginkan BGN di Jakarta memaksakan," jawabnya saat ditanya Ketik.com terkait pelaksanaan MBG selama dua minggu bulan Ramadan 2026.
Tanggapan SPPG Ngrojo 2 Bangilan
Menanggapi keluhan penerima manfaat, Kepala SPPG Ngrojo 2 Bangilan, Geri, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia berdalih kondisi puding cair disebabkan faktor teknis di dapur, di antaranya relawan dapur baru pertama kali mengolah makanan dalam kapasitas besar.
Pihak SPPG telah menginstruksikan satuan pendidikan agar puding yang cair tidak dikonsumsi. Geri berjanji akan mengganti menu puding cair Rp3 ribu dengan buah-buahan pada Senin mendatang.
"Nanti di hari Senin akan kami ganti dengan buah sebagai langkah tanggung jawab kami terhadap menu yang kami berikan," tegas Geri.
Namun SPPG Ngrojo 2 ini enggan memberikan jawaban perihal paket menu MBG yang dilakukan secara rapelan 2 hari termasuk untuk konsumsi hari apa.
Dari medsos dapur tersebut dalam pembagian rapelan 2 hari hanya porsi besar Rp 20.000 ribu berupa buah apel: Rp 4.000 ribu, tahu Bakso: Rp4.500, Puding: Rp3.000, Susu: Rp3.500
Sebelumnya, Wakil BGN Irjen Pol. Sony Sanjaya dengan tegas melarang skema paket rapelan di bulan ramadan. Selain itu, SPPG diwajibkan memberikan label atau daftar harga komposisi makanan siap konsumsi tersebut.
"Dalam zoom meeting sudah diberikan tahu SPPG kasih label harga. tidak ada lagi bundling-bunding (rapel) tiga hari seperti ini. Arahnya, setiap hari Korwil," ujar Sony Sanjaya kepada Ka.SPPG dalam kunker dan sidaknya.
Berdasarkan data yang dihimpun, dapur SPPG di bawah Yayasan Kemala Bhayangkari di Tuban rata-rata hanya mengelola porsi besar dengan nilai total komponen Rp15.000 ribu rupiah dengan rincian makanan siap santap senilai Rp 10.000 ribu rupiah untuk penerima manfaat.
Sisanya untuk internal dapur mencakup operasional Rp3.000 ribu dan biaya sewa lahan Rp2.000 ribu.(*)
