KETIK, YOGYAKARTA – Tangis itu pecah di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Kamis, 15 Januari 2026. Di hadapan para undangan yang memenuhi ruangan, Prof. Zainal Arifin Mochtar berhenti sejenak di ujung pidato pengukuhannya sebagai guru besar. Suaranya bergetar. Tangannya terangkat menyeka air mata yang tak terbendung.
Ingatan Uceng -sapaan akrabnya- melayang pada satu sosok yang paling ingin ia lihat duduk di kursi undangan hari itu: ayahnya. Lelaki yang selalu mendorongnya membaca, berpikir, dan berani bersuara itu telah lebih dulu berpulang. Kebahagiaan yang seharusnya utuh mendadak terasa berlubang.
Tahun 2017 menjadi titik paling sunyi dalam hidup Uceng. Di tahun itulah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan dua pesan yang tertanam kuat. Pertama, menjaga dan merawat ribuan buku warisan pemikiran sang ayah. Kedua, menuntaskan perjalanan akademik hingga menjadi guru besar. Dua janji itu tidak mudah, tetapi hari itu, satu per satu telah ia tepati.
Begitu turun dari mimbar, Uceng langsung memeluk ibunya, Hj. Zaitun Abbas. Tangisnya pecah di dada perempuan yang selama ini menjadi saksi jatuh bangun hidupnya. Bagi Uceng, gelar profesor bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ia menyebutnya bukan “batu yang jatuh dari langit”, melainkan hasil dari perjalanan panjang, luka, kegagalan, dan keyakinan yang terus diuji.
Ia tumbuh di rumah sederhana di Makassar, tak jauh dari Stadion Mattoangin. Di bawah atap seng, Uceng belajar mengenal dunia—tentang tawa keluarga, tentang keterbatasan, dan tentang mimpi yang perlahan tumbuh. Dari sana, ia melangkah jauh: menjadi pelajar, aktivis, mahasiswa, dosen, hingga pemikir hukum yang suaranya kerap menggema di ruang publik.
Organisasi menjadi sekolah keduanya. Dari Ketua OSIS SMA Negeri 1 Makassar, Ketua Senat Fakultas Hukum UGM, hingga terlibat di berbagai lembaga kajian dan gerakan masyarakat sipil. Ia terbiasa berada di ruang diskusi, debat, dan kritik—kadang disanjung, tak jarang diserang.
Dunia akademik membawanya berkeliling forum sejak hampir dua dekade lalu. Seminar, diskusi, lokakarya, siaran televisi, hingga forum internasional menjadi ruang belajar yang membentuk keberaniannya. “Di situlah saya bertemu orang-orang cerdas yang membantu menimbun pengetahuan,” kenangnya.
Zainal Arifin Mochtar atau Uceng (berdiri) saat dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) pada Kamis, 15 Januari 2026 kemarin. (Foto: Firsto/Humas UGM)
Perjalanan pendidikannya terentang panjang: Sarjana Hukum UGM pada 2003, Master of Laws di Northwestern University, Amerika Serikat, pada 2006, dan doktor hukum di UGM pada 2012. Dalam perjalanannya, ia tak hanya menumpuk gelar, tetapi juga peran—dari Ketua Departemen Hukum Tata Negara UGM hingga mengisi berbagai posisi strategis nasional.
Dalam lima tahun terakhir, Uceng menulis, meneliti, dan bersuara tanpa henti. Ia menerbitkan buku, jurnal, riset, dan terlibat dalam film dokumenter Dirty Vote, yang mengukuhkan posisinya sebagai intelektual yang memilih berdiri di tengah pusaran kritik, bukan di menara gading.
Uceng selama ini memang dikenal sebagai akademisi hukum yang tidak berdiri di menara gading. Ia kerap turun aksi dan melontarkan kritikan tajamnya terhadap jalannya penegakan hukum di negeri ini yang kerap kali jauh dari rasa keadilan.
Bagi Uceng, profesor bukanlah puncak. Ia menyebut gelar itu sebatas urusan administratif. Yang jauh lebih berat adalah tanggung jawab moral dan keberpihakan pada kepentingan publik. Ia percaya, intelektual sejati tidak harus selalu tampil, tetapi harus mampu memberdayakan pengetahuan agar masyarakat tidak terus dibodohi.
“Tanggung jawab kita kelak akan ditagih. Dari sanalah akan ditentukan Indonesia akan menjadi seperti apa,” ucapnya menutup pidato, dengan suara yang kembali tenang namun penuh beban.
Sejumlah tokoh hadir menyaksikan momen itu. Ganjar Pranowo menyebut Uceng sebagai intelektual organik yang berani bersuara berbasis data. Jusuf Kalla berharap pemikiran Uceng membantu demokrasi tetap berada di jalur yang benar. Eddy O.S. Hiariej—yang disebut Uceng sebagai saudara, teman, sekaligus lawan debat—menyebut gelar profesor itu akan membawa keberkahan bagi ilmu hukum Indonesia.
Di balik toga dan gelar, Uceng tetaplah anak yang menepati janji pada ayahnya. Hari itu, di Balai Senat UGM, air mata menjadi saksi bahwa pencapaian tertinggi manusia sering kali lahir dari cinta, kehilangan, dan kesetiaan pada nilai yang diyakini. (*)
