KETIK, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan lima profesor baru pada Senin, 9 Februari 2026. Kelima pakar ini membawa inovasi strategis dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari ketahanan pangan hingga reformasi hukum pidana.
Universitas Brawijaya mengukuhkan lima profesor baru yang terdiri dari Prof. Mashudi (Fakultas Peternakan) pakar bidang Ilmu Teknologi Pakan Ternak Ruminansia, Prof. Prija Djatmika (Fakultas Hukum) pakar bidang Ilmu Hukum Pidana, Prof. Tri Yudani Mardining Raras (Fakultas Kedokteran) profesor bidang Biokimia Biomolekuler, Prof. Agustin Iskandar (Fakultas Kedokteran) profesor bidang Ilmu Patologi Klinik, serta Prof. Tatit Nurseta (Fakultas Kedokteran) yang mengembangkan model PERMATA MOLA.
Prof. Mashudi memperkenalkan Peternakan Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP) yang merupakan Proteksi Protein dan Asam Amino Berbasis Konden Tanin. Model ini cocok diterapkan untuk peternakan perah tropis berkelanjutan.
"Ternak Ruminansia, khususnya sapi perah dan kambing perah, memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani melalui produksi susu serta menjadi sumber pendapatan utama bagi peternak rakyat di Indonesıa," ujarnya, Senin, 9 Februari 2026.
Produk susu yang berkualitas ditentukan oleh pengelolaan nutrisi khususnya protein. Dalam NPRP, rumen bekerja sebagai pabrik biologis melalui proteksi selektif protein dan asam amino esensial pembatas, yaitu lisin dan metionin.
Dari bidang hukum, Prof. Prija Djatmika dikukuhkan sebagai Profesor bidang Ilmu Hukum Pidana. Ia mengusung Clear-Asset Model, sebuah gagasan yang mengedepankan pengembalian aset hasil korupsi.
"Model ini memformulasikan mekanisme pengembalian aset yang sistematis, terpisah dari pemidanaan, serta mengakomodasi perampasan aset in rem tanpa harus menunggu putusan pidana dalam kondisi tertentu," ujarnya.
Menurutnya, model ini tetap menjamin kepastian hukum serta perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Model ini dapat digunakan sebagai rujukan akademik dan kebijakan reformasi hukum.
Prof. Tri Yudani Mardining Raras mendobrak pandangan tentang protein rekombinan yang sering hanya dianggap sebagai alat uji hipotesis. Ia mengembangkan protein rekombinan yang dapat berperan sebagai agen serodiagnosis, prototype vaksin, hingga protein terapeutik. Selama 16 tahun, ia meneliti penggunaan Ag38 untuk protein rekombinan.
"Lebih flexible sesuai kebutuhan, jika satu jenis protein tidak berfungsi secara optimal, maka bisa segera diubah constructnya, dengan modifikasi komponen protein ataupun epitopnya secara independen," jelasnya.
Prof. Agustin Iskandar, menyoroti metode diagnostik dan biomarker yang belum diikuti dengan peningkatan kemampuan untuk memprediksi perjalanan penyakit dan luaran klinis pasien. Ia memperkenalkan model HOPE-ID (Host-Oriented Prognostic Evaluation in Infectious Diseases), sebagai paradigma baru prognosis penyakit infeksi berbasis respons inang.
"HOPE-ID menggunakan pendekatan multidimensional, relevansi lintas spektrum. Ada potensi mengintegrasikan AI sehingga pengambilan keputusan klinis lebih presisi dan tepat waktu," ujarnya.
Prof. Tatit Nurseta memperkenalkan model PERMATA MOLA. Inovasi ini bertujuan mencegah kasus hamil anggur (Mola Hidatidosa) melalui penggabungan epidemiologi, karakteristik molekuler trofoblas, regulasi hormonal, serta peran nutrisi maternal pada kelompok risiko tinggi.
"Model ini menekankan intervensi sebelum kehamilan sebagai tahap kunci untuk menurunkan insiden MH dan mencegah transformasinya menjadi PTM," ujarnya.(*)
