Kehilangan “Rasa” Ibadah saat Ramadan? Ini Penjelasan dr. Zaidul Akbar

5 Maret 2026 05:33 5 Mar 2026 05:33

Thumbnail Kehilangan “Rasa” Ibadah saat Ramadan? Ini Penjelasan dr. Zaidul Akbar

ilustrasi ibadah tetapi terasa hampa (Desain: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Ibadah Ramadan yang terasa kosong atau sekadar rutinitas sering dialami banyak orang. Dalam kajiannya, dr. Zaidul Akbar menjelaskan “Ibadah Kosong Tanpa Rasa” yang diunggah di kanal YouTube resmi beliau pada 10 Maret 2025.

Menurutnya, banyak orang menjalankan puasa, tarawih, dan tadarus dengan lancar secara fisik, namun hati tetap merasa datar dan hampa. Masalahnya bukan pada kurang banyaknya ibadah, melainkan pada hilangnya “rasa” yang seharusnya menyertai setiap gerakan dan bacaan.

Dalam penjelasannya beliau mengingatkan dua kalimat fundamental dari hadis qudsi “Aku menciptakan kalian untuk-Ku dan Aku ciptakan dunia ini untuk kalian,” Dari sini beliau menegaskan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah Allah, sementara dunia hanyalah sarana.

Namun, realitasnya banyak orang sibuk mengejar sarana, harta, jabatan, pengakuan dan lupa bahwa semua itu hanyalah alat. “Banyak orang sekarang salah tujuan. Yang dipentingkan kendaraan nya, bukan tujuannya,” ujar dr. Zaidul Akbar.

Beliau juga memberikan contoh sederhana, kebahagiaan mengantar anak ke pondok pesantren bukan terletak pada mobil yang dipakai, melainkan pada pelaksanaan tanggung jawab untuk mendidik anak lebih baik.

Dr. Zaidul Akbar juga mengurai tiga penyebab utama ibadah terasa hampa. Pertama, lupa tujuan dan sibuk dengan sarana, sehingga ibadah berubah jadi rutinitas mekanis. Kedua, kehilangan “rasa” ibadah. Beliau mengajak jemaah merenung: “Saat mendekati orang yang dicintai, jantung berdebar, pikiran fokus. Tapi saat beribadah kepada Allah, Dzat yang paling berhak dicintai kenapa hati justru datar?” ujarnya.

Ketiga, beliau mengingatkan bahwa hati adalah “raja” dalam diri, dan makanan favoritnya adalah cinta dan kasih sayang. “Ketika hati tidak diberi makan dengan dzikir, keikhlasan, dan cinta kepada Allah, hati akan mengering,” jelasnya. Dr. Zaidul Akbar juga menyoroti penyakit halus yaitu merasa bisa mengendalikan hidup, padahal semua kegiatan manusia itu atas izin Allah.

Dr. Zaidul Akbar memberikan tips cara menghidupkan kembali ibadah yang “berisi” dengan cara berdoa dengan tulus dan kerinduan akan ibadah, bukan sekadar daftar permintaan. “Merengeklah sama Allah, tapi dengan rasa cinta. Katakan: ‘Ya Allah, aku cinta pada-Mu. Aku rindu pada-Mu,” pesannya.

Beliau juga menekankan pentingnya memanfaatkan momen emas spiritual, yakni 10 malam terakhir Ramadan dan 10 hari pertama Zulhijah, selain itu beliau mengajak umat untuk mengubah pola pikir saat diuji, ketika mendapat sakit, kesulitan, atau kehilangan orang yang mencintai Allah tidak akan fokus pada diri sendiri, melainkan memprioritaskan keridaan Allah di atas kenyamanan diri.

Dr. Zaidul Akbar menutup kajiannya dengan pesan yang mengajak refleksi “Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar. Ini adalah pelatihan 30 hari untuk melatih hati agar tetap hadir dalam setiap ibadah,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Hikmah Ramadan ibadah hampa kualitas ibadah Ramadan kehilangan rasa ibadah bulan Ramadan