KETIK, BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, secara resmi melantik sejumlah pejabat pimpinan tinggi pratama (Eselon II) di lingkungan Pemerintah Aceh, Jumat malam, 27 Februari 2026, di Anjong Mon Mata, Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh.
Salah satu nama yang mencuri perhatian dalam pelantikan tersebut adalah drh Safridhal, yang kini dipercaya menjabat sebagai Kepala Dinas Peternakan Aceh. Sosok birokrat teknis ini bukan figur baru di dunia pertanian dan peternakan. Ia dikenal sebagai pejabat yang tumbuh dari bawah, matang oleh pengalaman lapangan, dan konsisten mengawal ketahanan pangan daerah.
Pria kelahiran Perlak, 30 Juli 1979 itu memiliki nama lengkap dr Safridhal. Ia merupakan representasi generasi profesional Aceh yang memilih mengabdi di tanah kelahirannya. Latar belakang akademiknya ditempa di Universitas Syiah Kuala, tempat ia meraih gelar Sarjana hingga Magister Kedokteran Hewan.
Fondasi keilmuan tersebut membentuk karakter berpikirnya yang sistematis dan berbasis data. Di tengah kompleksitas persoalan sektor peternakan dan pangan, pendekatan analitis menjadi kekuatan utama Safridhal dalam merumuskan kebijakan yang terukur dan tepat sasaran.
Kariernya dimulai dari jabatan teknis di lapangan. Ia pernah memimpin UPTD Puskeswan Seunagan Timur serta UPTD Peternakan Padang Turi. Dari posisi tersebut, Safridhal memahami secara langsung persoalan peternak, tantangan produksi, hingga isu kesehatan hewan. Pengalaman inilah yang membentuknya sebagai pemimpin yang tak hanya membaca laporan di atas meja, tetapi juga mengerti realitas di kandang dan lahan petani.
Kepercayaan publik terhadap kapasitasnya semakin menguat saat ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya periode 2022–2025. Dalam posisi strategis itu, ia memimpin perumusan kebijakan, mengendalikan program prioritas, serta membina petani dan peternak agar sektor pertanian dan peternakan benar-benar menjadi penggerak ekonomi rakyat.
Sebelum dilantik sebagai punggawa atau pimpinan di Dinas Peternakan Aceh, Safridhal menjabat sebagai Penelaah Teknis Kebijakan pada Dinas Kelautan, Perikanan dan Pangan Kabupaten Nagan Raya. Perannya tetap vital sebagai “mesin analisis” di balik setiap rancangan kebijakan, memastikan program selaras dengan RPJMD, berbasis potensi wilayah, serta akuntabel dalam pelaksanaan.
Rekan-rekannya mengenal Safridhal sebagai figur yang tenang, sistematis, dan fokus pada substansi. Ia tidak banyak tampil, namun kuat dalam kerja. Gaya kepemimpinannya kolaboratif, mengedepankan koordinasi lintas sektor dan pembinaan internal aparatur.
Dalam pernyataannya usai pelantikan, Safridhal menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor peternakan Aceh secara menyeluruh.
“Peternakan bukan hanya urusan produksi, tetapi menyangkut ketahanan pangan, kesejahteraan peternak, dan stabilitas ekonomi daerah. Ke depan, kita akan memperkuat sistem berbasis data, meningkatkan kualitas layanan kesehatan hewan, serta mendorong hilirisasi produk peternakan agar memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. “Saya percaya, dengan kerja bersama dan kebijakan yang tepat sasaran, sektor peternakan Aceh bisa tumbuh lebih mandiri dan berdaya saing,” tambahnya.
Di luar ruang kerja, Safridhal dikenal sebagai kepala keluarga yang sederhana. Bersama istrinya, Suriyana Sulem, S.Pd, dan lima orang anak, ia menempatkan keluarga sebagai fondasi utama kehidupan.
Dengan pengalaman panjang di sektor strategis dan komitmen terhadap tata kelola berbasis data, drh Safridhal menjadi contoh birokrat teknis yang tumbuh dari bawah, memahami persoalan riil masyarakat, dan konsisten mengabdikan diri pada penguatan ketahanan pangan serta pembangunan ekonomi Aceh. (*)
