KETIK, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Sugiono membantah bahwa Indonesia mengucapkan bela sungkawa kepada Iran atas wafatnya pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, ucapan belasungkawa itu disampaikan Indonesia tidak secara terbuka di depan umum. Melainkan melalui surat yang dititipkan kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.
Hal itu diungkapkan oleh Menlu Sugiono –seperti biasanya- melalui akun media sosialnya. Namun, tidak ada ucapan belasungkawa atau pernyataan resmi apapun terkait kondisi Iran, yang diunggah di situs resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI).
Dalam postingan di salah satu akun media sosialnya, Sugiono menyebut kritikan karena Indonesia tidak menyampaikan belasungkawa atas waaftnya Ayatollah Ali Khamenei sebagai kabar bohong.
“AWAS HOAKS yang menyebut Indonesia tidak mengucapkan bela sungkawa kepada Iran atas wafatnya pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Indonesia tidak mungkin tidak mengucapkan bela sungkawa karena telah menjalin hubungan baik dengan Iran selama 76 tahun,” tulis Sugiono di akun Instagram miliknya pada Kamis, 5 Maret 2026, sekitar pukul 03:00 WIB.
Menurut Sugiono, ucapan belasungkawa dan duka cita mendalam dari Presiden Prabowo Subianto telah disampaikan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
“Surat diberikan melalui Menlu Sugiono kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi,” tulis Sugiono yang menyertakan foto dia bersalaman dengan sang dubes.
Sebelumnya, kritikan tajam dilontarkan mantan diplomat senior yang juga mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal.
“Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Selama bertahun-tahun, Iran adalah negara sahabat Indonesia. Kita sama-sama anggota NonBlok, OKI, D8, G77, BRICS. Kita sering beda pandangan dan beda posisi dengan Iran, dan sistim politik serta ideologi masing-masing juga beda. Namun Indonesia dan Iran tidak pernah cekcok. Iran punya sejumlah musuh tapi tidak pernah meminta Indonesia memusuhi musuh-musuhnya. Fokus hubungan bilateral kita adalah kerjasama, persahabatan dan saling menghormati,” ujar Dino dalam akun media sosialnya pada Rabu, 4 Maret 2026.
Dalam postingan tersebut, Dino menekankan bahwa Indonesia punya hubungan yang sangat baik dengan Iran. Meski kerap berbeda dalam banyak hal, namun tidak pernah sekalipun berkonflik.
Sayangnya, justru ketika pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei dibunuh secara keji oleh Israel dan Amerika Serikat, Indonesia tidak secara terbuka mengucapkan belasungkawa.
Hal ini membuat garis diplomatik Indonesia sebagai negara bebas aktif, patut dipertanyakan.
“Sayangnya, ketika Ayatollah Khamenei dll tewas terbunuh, Pemerintah Indonesia tidak menyatakan ucapan belasungkawa, sebagaimana lazimnya kalau pemimpin negara sahabat Indonesia meninggal. Kelupaan atau sengaja ? Kalau sengaja, yang kita takutkan apa ? Apakah yakin kita masih bebas aktif ?” kritik Dino.
Sikap Indonesia yang tidak mengucapkan belasungkawa secara terbuka atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei ini pada akhirnya berpengaruh pada tawaran Indonesia untuk menjadi mediator dalam perang antara Iran versus Israel dan Amerika Serikat.
“Karena merasakan sikap dingin kita terhadap kematian pemimpinnya, tidak heran Menlu Iran menolak dgn halus tawaran mediasi Indonesia. Mungkin mereka menyangsikan motivasi Indonesia. Something to think about #wisdomwithoutfear,” pungkas Dino.
Kritik terbuka Dino melalui media sosial terhadap kinerja diplomasi Indonesia ini mendapat respon luas dari warganet. (*)
