Pembukaan Perbatasan Rafah Gaza, Israel Janji Usai Dapatkan Jenazah Sandera Terakhir

26 Januari 2026 09:03 26 Jan 2026 09:03

Thumbnail Pembukaan Perbatasan Rafah Gaza, Israel Janji Usai Dapatkan Jenazah Sandera Terakhir

Bantuan medis dan kemanusiaan yang akan masuk ke Gaza melalui pintu perbatasan Rafah, Mesir. (Foto: UNRWA)

KETIK, JAKARTA – Israel menyatakan akan membuka kembali perlintasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir setelah Angkatan Darat Israel (IDF) menyelesaikan operasi pencarian jenazah sandera terakhir yang masih ditahan di Gaza. Pernyataan itu disampaikan setelah rapat kabinet keamanan Israel, di tengah tekanan internasional agar jalur perbatasan strategis tersebut segera dibuka.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pernyataan resminya, Senin, 26 Januari 2026 mengatakan pembukaan Rafah akan dilakukan setelah operasi militer selesai dan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibahas bersama Amerika Serikat. Pemerintah Israel menegaskan bahwa upaya membawa pulang seluruh sandera, termasuk yang telah meninggal dunia, tetap menjadi prioritas utama.

Media kenamaan Israel, The Israel Times menyoroti ketentuan dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Dalam kesepakatan awal, Hamas diwajibkan mengembalikan seluruh sandera yang masih hidup dalam waktu 72 jam sejak gencatan senjata dimulai. Namun, pengembalian jenazah sandera yang terkubur di bawah reruntuhan disebut dapat memerlukan waktu lebih lama, tergantung kondisi lapangan.

Operasi pencarian saat ini difokuskan di sebuah pemakaman di wilayah utara Jalur Gaza. Berdasarkan informasi intelijen, IDF meyakini bahwa jenazah Sersan Ran Gvili, sandera terakhir yang belum ditemukan, kemungkinan besar berada di lokasi tersebut. Meski demikian, pihak militer menyatakan masih menelusuri sejumlah petunjuk lain untuk memastikan keberadaan jenazah tersebut.

Seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa Washington memperkirakan operasi pencarian akan berlangsung selama beberapa hari. Jika pencarian selesai sesuai rencana, perlintasan Rafah diperkirakan dapat dibuka kembali sebelum akhir pekan.

Rafah memiliki peran penting bagi Gaza karena merupakan satu-satunya pintu perbatasan yang tidak langsung melalui wilayah Israel. Perlintasan ini menjadi jalur utama keluar-masuk warga Gaza serta pengiriman bantuan kemanusiaan. Penutupan Rafah dalam beberapa waktu terakhir telah memperparah kondisi kemanusiaan dan menghambat upaya pemulihan awal pascaperang.

Penutupan Rafah selama serangan Israel telah berdampak pada krisis kemanusiaan seperti kelaparan dan krisis medis di Gaza, wilayah yang secara de facto dikendalikan oleh Hamas.

Israel sebelumnya menolak membuka Rafah sepenuhnya dengan alasan Hamas belum memenuhi komitmen untuk menyerahkan seluruh sandera dan jenazah yang masih ditahan. Kasus Ran Gvili menjadi titik krusial dalam perundingan, karena Israel menilai pembukaan perlintasan tanpa penyelesaian masalah sandera akan melemahkan posisi negosiasi.

Ran Gvili (24) merupakan polisi muda Israel di kesatuan elit Yassam yang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dalam pertempuran Hamas-Israel. Jasadnya kemudian dibawa Hamas ke Gaza, dan hingga kini menjadi sandera terakhir dalam kondisi tewas, yang belum ditemukan. Jasadnya diduga terkubur reruntuhan gedung akibat serangan pasukan Israel ke Gaza.

Di sisi lain, pemerintahan Benjamin Netanyahu belum satu suara untuk memenuhi desakan internasional guna membuka perbatsan Rafah. Sejumlah politisi sayap kanan Israel menolak keras pembukaan perbatasan Rafah hingga Hamas meletakkan dan menyerahkan seluruh senjata, sesuai perjanjian yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir yang dikenal sebagai politikus garis keras Israel menyebut, rencana pemerintahannya untuk membuka jalur Rafah sebagai kesalahan besar, jika dilakukan sebelum Hamas benar-benar dilucuti dan dihancurkan sepenuhnya. Ia menilai pembukaan perlintasan dapat mengirimkan pesan yang salah kepada kelompok militan.

Menteri Permukiman Israel, Orit Strock juga mempertanyakan rencana keterlibatan Otoritas Palestina atau badan administratif lain dalam pengelolaan Gaza pascaperang. Menurutnya, pihak-pihak tersebut tidak layak diberi peran karena dianggap memiliki keterkaitan dengan terorisme.

Pencarian jenazah Ran Gvili dan rencana pembukaan Rafah ini berlangsung di tengah dorongan kuat Amerika Serikat agar Israel dan Hamas melangkah ke fase berikutnya dari kesepakatan gencatan senjata. Fase ini mencakup penarikan pasukan, pengaturan keamanan baru, serta langkah-langkah awal menuju rekonstruksi dan stabilisasi Gaza.

Amerika Serikat sendiri juga sudah mengumumkan pembentukan Board of Peace (BoP) yang akan memimpin rekonstruksi di Gaza usai dihancurkan Israel. Sejumlah pemimpin negara Islam, termasuk Presiden Indonesia, Prabowo Subianto sudah menyatakan dukungan penuhnya kepada AS terkait pendirian BoP di Gaza.

Karena itu, dalam beberapa hari ke depan, akan menjadi fase krusial, tidak saja terkait pembukaan perbatasan Rafah, tetapi juga masa depan proses damai di Gaza yang diperkirakan masih rapuh.

Tombol Google News

Tags:

Rafah mesir gaza Palestina Israel Ran Gvili Board of Peaceh BoP