KETIK, JAKARTA – Konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat terus meningkat di kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, yang mengakibatkan sekitar 100 tentara AS mengalami luka-luka.
Serangan tersebut dilaporkan menggunakan kombinasi rudal dan drone tempur yang menargetkan fasilitas militer Amerika di wilayah tersebut. IRGC menyatakan operasi itu merupakan bagian dari respons terhadap serangan militer yang sebelumnya dilancarkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran.
Serangan Balasan Iran
Kantor berita Iran, Tasnim News melaporkan, serangan tersebut diarahkan ke instalasi militer Amerika yang berada di wilayah Kuwait dan digunakan sebagai pusat operasi bagi pasukan AS di kawasan Teluk.
Akibat serangan itu, IRGC mengklaim sekitar 100 personel militer Amerika dilaporkan mengalami luka-luka, sebagian karena dampak ledakan dan serpihan proyektil. Belum ada tanggapan resmi dari AS atas pernyataan resmi IRGC tersebut.
IRGC menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari operasi balasan terhadap aksi militer Washington di kawasan Timur Tengah. Mereka menegaskan bahwa target utama operasi tersebut adalah fasilitas militer Amerika dan bukan wilayah sipil.
“Angkatan Laut IRGC melakukan operasi yang kuat dan menentukan terhadap sisa-sisa militer AS di wilayah tersebut selama Lailatul Qadar pada hari ke-21 bulan suci Ramadan, sebagai bagian dari gelombang ke-38 operasi True Promise 4, dengan kode nama "Ya Haydar al-Karrar (AS)," ujar pernyataan resmi dari IRGC pada Rabu, 11 Maret 2026.
Bagian dari Konflik yang Lebih Luas
Serangan ke pangkalan AS di Kuwait terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya di Timur Tengah.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran disebut meluncurkan berbagai serangan rudal dan drone ke sejumlah target yang berkaitan dengan militer AS dan sekutunya di kawasan tersebut.
Situasi ini menandai eskalasi serius dalam konflik regional yang sebelumnya sudah memanas akibat serangkaian operasi militer antara Iran dan blok yang dipimpin Amerika Serikat.
Dampak Serangan di Kuwait
Beberapa laporan menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas militer yang digunakan pasukan Amerika sebagai pusat operasi taktis. Dalam insiden sebelumnya di Kuwait, serangan drone Iran bahkan menewaskan beberapa tentara AS dan menyebabkan puluhan lainnya terluka.
Serangan tersebut menunjukkan bahwa pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk kini menjadi sasaran utama dalam konflik yang terus berkembang.
Dengan meningkatnya intensitas serangan dan jumlah korban di kedua pihak, banyak analis menilai konflik Iran dan Amerika Serikat berpotensi meluas menjadi perang regional yang lebih besar.
Selain menargetkan pangkalan militer, konflik ini juga mulai berdampak pada infrastruktur energi dan jalur perdagangan di kawasan Teluk, termasuk wilayah sekitar Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Sejumlah negara di Timur Tengah kini meningkatkan kewaspadaan militer dan pertahanan udara mereka, mengingat kemungkinan serangan lanjutan yang dapat memperluas konflik di kawasan tersebut.
