Silaturahmi ke MUI, Dubes Iran Ajak Umat Islam Indonesia Waspadai Provokasi Isu Syiah-Sunni

8 April 2026 07:20 8 Apr 2026 07:20

Thumbnail Silaturahmi ke MUI, Dubes Iran Ajak Umat Islam Indonesia Waspadai Provokasi Isu Syiah-Sunni

Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi (tengah) berbincang akrab dengan Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud (kanan) disaksikan Waketum MUI, KH Cholil Nafis (kiri). Foto: MUI

KETIK, JAKARTA – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengajak umat Islam di Indonesia untuk tidak terjebak dalam perpecahan akibat isu perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Ia menegaskan, narasi yang mempertentangkan kedua kelompok tersebut kerap dimanfaatkan pihak luar untuk memecah belah umat.

Hal itu disampaikan dalam kunjungan silaturahmi Kedubes Iran ke kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu. Boroujerdi mengungkapkan bahwa sekitar 45 tahun lalu isu perbedaan Syiah dan Sunni tidak mencuat seperti sekarang. Menurutnya, menguatnya narasi tersebut tidak lepas dari kepentingan pihak tertentu yang ingin melemahkan persatuan umat Islam, termasuk yang dikaitkan dengan agenda zionisme Israel.

“Isu Syiah dan Sunni ini merupakan fitnah yang diproduksi oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam. Tujuannya adalah untuk mengkotak-kotakkan umat,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan tertulis MUI, Rabu, 8 April 2026.

Boroujerdi menegaskan, umat Islam harus mampu menahan diri dari berbagai provokasi yang berpotensi memecah persatuan. Ia menilai para ulama dan tokoh agama sejatinya memahami kondisi di lapangan serta pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa dalam berbagai momentum penting sejarah Islam, termasuk pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam mampu bersatu tanpa terpecah oleh perbedaan internal. Ia menilai semangat kebersamaan dan perjuangan kolektif menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Kita tidak boleh kehilangan fokus hanya karena sibuk memperdebatkan apakah ini Syiah atau Sunni. Persatuan harus menjadi prioritas,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sikap saling menghormati antarumat Islam. Sebagai bentuk komitmen terhadap persatuan, Boroujerdi mengaku siap menjadi makmum di belakang imam dari kalangan ulama Indonesia.

Selain itu, ia merujuk pada fatwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang melarang penghinaan terhadap simbol-simbol yang dihormati mazhab lain, termasuk Ahlussunnah wal Jamaah.

“Fatwa tersebut menegaskan pentingnya saling menghormati antar umat Islam, serta menghindari tindakan yang dapat memicu perpecahan,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Boroujerdi kembali menegaskan bahwa persatuan umat Islam menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Persatuan adalah jalan menuju kemenangan,” pungkasnya.

Tombol Google News

Tags:

Dubes Iran Mohammad Boroujerdi Syiah Sunni persatuan umat Islam majelis ulama indonesia konflik internal Islam fatwa Ali Khamenei MUI