KETIK, JAKARTA – Indonesia hingga kini belum termasuk negara yang mendapat akses melintasi Selat Hormuz, meski secara resmi tidak berada dalam posisi bermusuhan dengan Iran.
Selat strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia pada kondisi normal itu kini menjadi sorotan di tengah konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Situasi keamanan di kawasan tersebut pun berdampak pada lalu lintas pelayaran internasional.
Di tengah ketegangan tersebut, Amerika Serikat melalui Presidennya, Donald Trump, bahkan mengultimatum Iran agar segera membuka akses Selat Hormuz. Jika tidak, Washington mengancam akan meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.
Meski demikian, Iran disebut masih memberikan pengecualian bagi sejumlah negara untuk melintasi selat yang berbatasan dengan wilayah Oman tersebut. Namun, Indonesia tidak termasuk dalam daftar negara yang mendapat kelonggaran itu.
Kondisi ini menjadi perhatian Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis. Ia mempertanyakan kebijakan tersebut saat menerima kunjungan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, awal pekan lalu.
Cholil menegaskan pentingnya akses Selat Hormuz bagi kepentingan energi nasional Indonesia serta hubungan bilateral kedua negara. Ia berharap Iran dapat memberikan dukungan agar kapal-kapal Indonesia dapat melintas dengan aman.
“Saya ingin bertanya, mengapa Indonesia, kapalnya belum bisa lewat di Selat Hormuz? Apakah bisa dibantu? Demi kemanusiaan dan persatuan kita yang akrab, sebaiknya barangkali kalau boleh kita minta, untuk kepentingan energi kita, kepentingan Indonesia dan hubungan baik Indonesia dengan Iran, agar bisa dibuka, sebagaimana tetangga kita, Malaysia,” ujar Cholil dalam potongan video yang diunggah akun resmi MUI, Selasa, 7 April 2026.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi (tengah) saat berkunjung ke kantor MUI, beberapa waktu lalu. (Foto: MUI)
Menanggapi hal tersebut, Boroujerdi menjelaskan bahwa kondisi keamanan di kawasan Teluk belum sepenuhnya stabil akibat konflik yang masih berlangsung. Ia menilai pihak-pihak yang memulai perang menjadi penyebab utama ketidakamanan di wilayah tersebut.
“Kami selama ini menangani situasi ini secara menyeluruh, dan kawasan Teluk selalu menjadi jalur strategis. Pihak-pihak yang sekarang membuat kawasan ini tidak stabil adalah mereka yang memulai perang, mereka yang menyerang kami dan mereka yang merusak kawasan ini,” kata Boroujerdi.
Ia menambahkan, stabilitas kawasan sangat bergantung pada berakhirnya konflik. Iran, kata dia, juga berkepentingan untuk memulihkan keamanan di jalur strategis tersebut.
“Jika mereka menghentikan perang, kami juga akan mengupayakan agar keamanan kembali ke kawasan ini,” ujarnya.
Terkait kapal Indonesia yang sempat tertahan, Boroujerdi mengungkapkan bahwa pemerintah Iran dan Indonesia saat ini tengah melakukan komunikasi intensif. Ia menyebut sejumlah kapal Indonesia sebelumnya sempat terjebak di wilayah tersebut.
Meski begitu, ia memastikan kapal-kapal Indonesia pada akhirnya dapat melintas selama memenuhi prosedur keamanan yang berlaku.
“Dua kapal Indonesia sudah berhasil keluar dari situasi tersebut. Pemerintah Iran dan Pemerintah Indonesia sedang melakukan pembicaraan dan tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan dalam hal ini. Indonesia tentu memiliki kapal-kapal tersebut dan pasti akan mengurusnya,” pungkasnya. (*)
