Kolam IPAL Limbah Pabrik Tahu di Jombang Tak Optimal Sejak Digali, Pernah Telan Korban Jiwa Anak Tenggelam

10 Januari 2026 13:32 10 Jan 2026 13:32

Thumbnail Kolam IPAL Limbah Pabrik Tahu di Jombang Tak Optimal Sejak Digali, Pernah Telan Korban Jiwa Anak Tenggelam

Tanah warga yang dialihfungsikan menjadi kolam penampungan sementara limbah pabrik tahu di Desa Mayangan, Jombang. (Foto: Syaiful Arif/Ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Kolam penampungan sementara Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik tahu di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, disebut belum berfungsi optimal sejak pertama kali digali pada 2024. 

Fasilitas yang berdiri di atas lahan milik warga itu awalnya disiapkan sebagai solusi sementara untuk menekan pencemaran Sungai Rejoagung 2 sembari menunggu pembangunan IPAL komunal permanen, yang sedang dikerjakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Pemkab Jombang dan Perusahaan Gas Negara (PGN).

Sejumlah warga pemilik lahan menyebut kolam tersebut hingga kini tidak difungsikan secara konsisten. 

Petani terdampak yang lahanya dijadikan kolam penampungan sementara IPAL Pabrik Tahu di Mayangan, Jogoroto, Tamim (50) mengatakan sejak awal penggalian, kolam penampungan IPAL limbah tahu itu lebih banyak tidak digunakan.

“Sejak digali tahun 2024, memang tidak berfungsi maksimal sampai sekarang,” ujar Tamim, Sabtu, 10 Januari 2026.

Selain persoalan fungsi, lokasi kolam penampungan IPAL limbah tahu sementara itu juga pernah menjadi tempat terjadinya kecelakaan yang menelan korban jiwa. 

Pada Agustus 2025, seorang anak berusia sekitar tiga tahun dilaporkan meninggal dunia setelah tercebur ke dalam kolam tersebut.

“Iya, waktu itu ada anak kecil meninggal tenggelam di kolam itu. Umurnya sekitar tiga tahun,” katanya.

Hal senada disampaikan Triwibowo (66), warga Desa Mayangan lainnya yang lahannya turut digali untuk kolam penampungan. Ia menyebut kolam tersebut kerap dibiarkan tanpa aktivitas.

“Kolamnya tidak beroperasi, dibiarkan saja sampai sekarang,” tuturnya.

Triwibowo menjelaskan, pada musim kemarau air limbah tahu sempat dialirkan ke kolam. Namun saat musim penghujan, fungsi kolam dihentikan sehingga aliran limbah langsung menuju sungai.

“Kalau kemarau, limbah masuk ke kolam. Kalau musim hujan seperti sekarang, tidak dipakai dan langsung ke sungai,” jelasnya.

Terkait peristiwa korban jiwa, Triwibowo membenarkan kejadian tersebut terjadi pada Agustus 2025. 

Menurutnya, korban sempat bermain di sekitar kolam sejak pagi sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia pada malam hari.

“Anaknya main dari pagi, sore dicari tidak ketemu. Malamnya ditemukan mengapung di kolam,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Paguyuban Perajin Tahu, Imam Subeki, membenarkan bahwa kolam penampungan IPAL limbah tahu sementara itu digali pada 2024 sebagai respons atas pencemaran Sungai Rejoagung 2 yang kala itu menimbulkan bau menyengat hingga ke lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso.

“Waktu itu sungai sangat bau. Setelah ada keluhan, dilakukan koordinasi termasuk dengan DLH Jombang untuk mencari cara meminimalisir dampak limbah,” jelasnya.

Ia menyebut kolam tersebut dibangun sebagai solusi sementara dan tidak bersifat permanen. Penggalian dilakukan di atas lahan yang digunakan untuk menahan sebagian aliran limbah tahu agar tidak langsung masuk ke sungai.

“Ini memang hanya sementara, untuk mengurangi limbah yang masuk ke sungai,” katanya.

Subeki mengakui kolam tersebut hanya difungsikan pada musim tertentu, terutama musim kemarau. Saat musim hujan, kolam tidak digunakan karena aliran air meningkat dan limbah langsung mengalir ke sungai.

“Kalau sekarang tidak berfungsi karena musim hujan. Saat kemarau biasanya kita pakai,” ujarnya.

Terkait insiden anak tenggelam pada Agustus 2025, Subeki juga membenarkan kejadian tersebut terjadi saat kolam masih difungsikan. Ia mengatakan saat itu kolam telah diberi pagar, namun kejadian tetap terjadi.

“Waktu itu kolam masih dipakai dan sudah dipagar. Memang ada kejadian anak kecil tenggelam,” katanya.

Ia menambahkan, pihak keluarga korban menerima peristiwa tersebut sebagai musibah. Orang tua korban diketahui juga merupakan perajin tahu di kawasan tersebut.

“Saat itu keluarga menerima dengan ikhlas, karena menyadari itu musibah,” pungkasnya.

Saat ini, para perajin tahu dan warga setempat menunggu kelanjutan pembangunan IPAL komunal permanen yang dibiayai oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan dikerjakan oleh PGN, yang kini pengerjaannya tengah berhenti sementara.

IPAL komunal tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang pengelolaan limbah pabrik tahu di Jombang agar lebih aman bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. (*)

Tombol Google News

Tags:

dlh jombang limbah pabrik tahu jombang pabrik tahu jombang ipal komunal pabrik tahu jombang berita jombang Pencemaran sungai Kementerian Lingkungan Hidup PGN pemkab Jombang