Perebutan kursi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional (KONI) Trenggakek memasuki penghujung. Pasalnya, pendafaran bakal calon akan berakhir pada 26 Januari mendatang. Hingga saat ini tercatat baru satu nama yang telah mengambil formulir pendaftaran, yakni Iqmal Eaby Mugy Mahawidya.
Menariknya, Eaby Mugy Mahawidya merupakan salah satu anggota DPRD Kabupaten Trenggalek. Kehadiran Eaby Mugy menjadikan warna baru dalam persaingan Ketum KONI Trenggalek, karena baru kali pertama sosok pejabat publik ikut berkompetisi bursa calon ketua.
Tak hanya Eaby Mugi, isu paling santer juga lagi hangat dan jadi perbincangan publik adalah hadirnya legislator lain yang akan mencalonkan diri. Tak tanggung-tanggung, nama Doding Rahmadi yang merupakan orang nomor satu di DPRD Kabupaten Trenggalek, disebut-sebut berpotensi besar ikut dalam pertarungan tersebut. Tentu ini akan menjadi totonan menarik bagi publik Trenggalek, sekaligus kejutan di awal 2026.
Tak hanya itu, ini akan menjadi sejarah dalam KONI yang kedepannya akan dinakhodai sosok pejabat publik. Menarik kah? Ya tentu pasti menarik, karena kualitas, kapabilitas dan integritas akan teruji saat menjadi orang nomor satu di induk cabor tersebut. Sehingga, sentuhan tangan dinginnya betul-betul ditunggu oleh masyarakat Trenggalek.
Tak hanya dari sisi tata kelola manajemen, peningkatan SDM dijajaran penguru, tapi target mendongkrak prestasi atlet-atlet Trenggalek agar bisa lebih bersaing juga tak kalah penting. Sekaligus menjawab tuntutan pecinta olahraga, Trenggalek bisa berbuat lebih baik dibeberapa even. Salah satunya adalah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) mendatang.
Mengapa mereka tertarik menjadi Ketum KONI?
Dari kaca mata penulis, kedua legislator tersebut punya keinginan besar memajukan olahraga Trenggalek. Sangat mungkin capaian selama ini dianggap kurang maksimal jika melihat talenta-talenta berbakat yang ada. Pendeknya, ada sesuatu yang mungkin perlu diinovasi ataupun perlu ada terobosan-terobosan baru yang bisa dijadikan daya ungkit.
Selain itu, rasa ingin perubahan di tubuh KONI Trenggalek bisa menjadi salah satu alasan. Perubahan tersebut bisa saja dengan membuka ruang komunikasi yang lebih optimal dengan cabor-cabor yang ada. Apakah itu soal sarana dan prasarana, kesejahteraan atlet atau hal lain.
Butuh jam terbang berorganisasi untuk menjadi nakhoda
Menjadi sosok leader tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh proses, butuh jam terbang, dan pengalaman memimpin sebuah organisasi. Tak terkecuali memiliki performance yang mumpuni. Jika tidak maka jangan salahkan istilah No Action Talk Only (NATO) akan mewarnai organisasi yang dipimpinnya.
Leader itu harus tahu kapan harus bersikap, mengambil keputusan, termasuk mengambil resiko dari apa yang sudah dicanangkan. Sehingga, tidak dalam keraguan dalam mengambil keputusan. Itupun dibutuhkan kecermatan dan estimasi yang optimal. Tidak mudah kan menjadi leader!
Ahli strategi kaya gagasan, daya jelajah tinggi
Menjalankan amanah dengan tanggungjawab dan profesional bukanlah hal mudah. Butuh strategi, gagasan dan daya jelajah tinggi. Tentu saja ini akan berbanding lurus dengan pengalaman. Meskipun tak bisa dipungkiri jika semuanya bisa dimodernisasi di era seperti sekarang ini. Tapi semua tidak bisa lepas dari proses. Pendeknya, proses tidak akan membohongi hasil.
Daya jelajah atau terobosan akan menjadi penyeimbang dalam menyempurnakan sebuah proses agar bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal. Setidaknya tidak jauh-jauh dari apa yang dicanangkan. Sehingga bisa happy ending. (*)
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
