Apa itu Kesehatan Mental? Menurut WHO (World Health Organization) kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan mental ýang memungkinan seseorang untuk mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi terhadap masyarakat.
Dewasa ini isu-isu masalah kesehatan mental marak kita dengar, mulai dari ‘anxiety’, bipolar, ADHD dan lain sebagainya. Namun, apa yang terjadi di Indonesia? Menurut survei dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, pada tahun 2021 sebanyak 28% remaja Indonesia usia 15-19 tahun menunjukkan gejala-gejala depresif.
Bukan hanya itu, menurut survei I-NAMHS tadi, Indonesia menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, yaitu 1 dari 3 remaja (15,5 juta) memiliki gangguan kesehatan mental dan 1 dari 20 (5,5 %) mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Sedang hanya 2,6 % remaja yang mencari bantuan profesional.
Mari kita kilas balik dengan beberapa kasus yang terjadi di Indonesia baru-baru ini. Misalnya siswa SD yang bunuh diri di NTT diduga karena tidak mampu membeli buku. Ada juga siswi di Demak yang bunuh diri karena kekerasan verbal yang dialaminya.
Sementara itu siswa SD di Banyuwangi yang nekat mengakhiri hidupnya karena mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Di Denpasar ada pemuda yang loncat dari gedung karena sering di-bully dan kesepian.
Tentunya masih banyak kejadian yang bisa jadi tak diberitakan oleh media. Tentu saja kejadian-kejadian itu membuat kita miris. Dan ternyata, sebagaimana diakui oleh KPAI, kasus bunuh diri anak/remaja di Indonesia adalah kasus tertinggi di Asia Tenggara.
Isu-isu kesehatan mental tentunya bukan hanya masalah yang sederhana misal, kemiskinan semata atau karena ‘baper’. Kasus-kasus bunuh diri cenderung dilatarbelakangi hal-hal kompleks meliputi sistem masyarakat itu sendiri. Tekanan sosial, ekonomi, pengaruh pendidikan dan teknologi, bahkan bisa saja pengaruh arah kebijakan pemerintah.
Kebijakan pemerintah yang menyengsarakan, pidato-pidato pejabat yang terdengar tidak masuk akal, bahkan kata-katanya menyakitkan, kurang mendidik dan penuh ancaman bagi orang-orang yang kritis. Apatisme terhadap negara karena para pemimpin dan pejabatnya tidak bisa diharapkan dan seakan tak ada jalan juga bisa memicu pikiran depresi.
Bagi mereka yang tertekan secara ekonomi, tapi memandang ke arah kebijakan negara yang seakan masih "ruwet", kadang juga bisa menambah beban pikiran. Pandangan bahwa tak ada harapan bagi kebaikan hidup, harapan baik dari lingkungan terdekat maupun dari pihak negara, adalah dasar bagi apatisme sosial yang menjadi latar belakang maraknya penyakit mental.
Perlunya Keterbukaan
Lantas bagaimana pandangan masyarakat sendiri tentang isu-isu kesehatan mental? Meski tren isu ini mengatakan kesadaran masyarakat mulai meningkat dari tahun ke tahun (dikutip dari Stigma toward people with mental health problems in Indonesia Journal), namun masih banyak juga masyarakat yang menganggap bahwa orang-orang yang mengalami masalah kesehatan adalah aib.
Bahkan masih banyak juga remaja atau bahkan orang dewasa yang sengaja “menyembunyikan” masalah kesehatannya hanya karena takut dianggap “gila”. Stigma-stigma negatif inilah membuat penderita yang sebenarnya butuh pertolongan profesional semakin menutup diri. Takut disalahkan, takut dianggap lemah, takut dianggap kurang beriman, takut tidak diterima oleh lingkungan.
Padahal tidak hanya skizofrenia saja, ada beberapa isu kesehatan mental seperti kecemasan yang berlebih atau sekedar depresi ringan (dismitik).
Perlunya sosialisasi bersama agar pemahaman di lingkungan masyarakat tentang isu kesehatan mental semakin meningkat serta mencegah penilaian satu pihak yang berbau “nasehat religius yang dipaksakan”.
Dengan demikian tidak banyak jiwa-jiwa yang terkungkung atau malu menceritakan saat ada sesuatu dalam dirinya yang salah. Dukungan lingkungan bagi penderita mental harus kondusif. Agar tidak menyebabkan masalah-masalah krusial yang menyebabkan manusia-manusia ini menyerah akan dirinya sendiri.
Jika, ada yang mengalami ini, sebaiknya tidak usah takut. Sebaiknya segera meminta bantuan profesional. Jika teman/keluarga ada yang mengalami sakit mental, tidak tepat jika melabelinya. Justru mereka seharusnya dibantu untuk membuka diri dan diberi penguatan—tidak malah dicap dan di-bully, tidak dijadikan bahan pergunjingan.
Semua orang bisa saja terkena masalah kesehatan mental, di arus dunia yang serba cepat ini, berita-berita negatif yang setiap hari kita lihat di televisi dan media sosial, kondisi lingkungan pekerjaan, kondisi keluarga, kondisi keuangan, dan lainnya mampu menjadi pemicu.
Bukan berarti mereka adalah orang yang lemah, bukan juga karena kurang Iman, Masalah kesehatan mental bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan.
Masalah kesehatan mental tidak bisa diremehkan dan tidak bisa diabaikan meski sekecil apapun gejala dan pemicunya. Bergandengan tangan, saling membuka diri, serta tidak berpikiran sempit itu perlu. Mari menjadi masyarakat yang melek menanggapi isu-isu kesehatan mental!
*) Maria Tery Ana merupakan Ketua Jaringan Muda Keranjingan Ilmu dan Filsafat Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
