Di setiap zaman, politik selalu berdiri di antara dua kemungkinan besar: ia dapat menjadi jalan menuju kebijaksanaan atau justru berubah menjadi instrumen dominasi yang melahirkan tragedi sejarah.
Pilihan di antara keduanya bukan semata ditentukan oleh kekuatan militer, ekonomi, atau teknologi, tetapi oleh kedalaman kesadaran moral para pelaku politik itu sendiri.
Hari ini dunia kembali memasuki babak yang penuh kegelisahan. Ketegangan geopolitik meningkat di berbagai kawasan, dan konflik antara United States, Israel dan Iran telah memperlihatkan bagaimana keseimbangan global dapat berubah menjadi ketegangan yang berpotensi meluas.
Serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal dan drone oleh Iran, bukan sekadar peristiwa militer. Ia adalah cermin dari dinamika kekuasaan dalam sistem dunia modern.
Dalam geopolitik klasik, konflik seperti ini sering dipahami sebagai konsekuensi dari perebutan kepentingan strategis: pengaruh kawasan, stabilitas keamanan, hingga kontrol atas jalur energi global.
Namun jika kita melihat lebih dalam, konflik tersebut sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: 'krisis kesadaran dalam penggunaan kekuasaan'. Di sinilah refleksi tentang 'filsafat makrifat politik' menjadi relevan.
Politik dan Krisis Kesadaran Kekuasaan
Dalam pengertian yang paling mendasar, politik adalah upaya manusia untuk mengatur kehidupan bersama. Ia lahir dari kebutuhan manusia untuk membangun keteraturan sosial, menentukan aturan kolektif, dan memilih kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Namun sejarah menunjukkan bahwa politik sering kali kehilangan dimensi etiknya. Kekuasaan tidak lagi dipahami sebagai sarana untuk mencapai keadilan, tetapi sebagai tujuan itu sendiri.
Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, maka politik berubah menjadi arena kompetisi tanpa batas. Negara saling mencurigai, memperkuat militer, dan membangun aliansi strategis demi mempertahankan posisi mereka dalam struktur kekuatan global.
Realitas ini dapat kita lihat dalam dinamika konflik global hari ini. Negara-negara besar bergerak dalam kalkulasi geopolitik yang rumit, sementara masyarakat dunia menyaksikan meningkatnya ketegangan internasional.
Namun dalam perspektif filsafat, situasi ini mengajukan satu pertanyaan yang jauh lebih mendalam, Apakah kekuasaan harus selalu berjalan dalam logika kekuatan, ataukah ia dapat berkembang menjadi kekuatan yang dipandu oleh kebijaksanaan?
Makrifat Politik Pengetahuan yang Disertai Hikmah
Konsep makrifat dalam tradisi pemikiran Timur memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pengetahuan rasional. Makrifat adalah pengetahuan yang menyatu dengan kesadaran moral dan kebijaksanaan batin.
Jika konsep ini diterapkan dalam politik, maka kekuasaan tidak cukup dijalankan dengan kecerdasan strategis atau kemampuan teknokratis semata. Kekuasaan harus dipandu oleh kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap keputusan politik.
Perang, misalnya, bukan hanya peristiwa militer. Ia adalah keputusan politik yang menentukan nasib jutaan manusia. Di balik setiap strategi militer terdapat kehidupan sipil, keluarga, dan masa depan generasi yang akan datang.
Karena itu, filsafat makrifat politik menempatkan kebijaksanaan sebagai fondasi kekuasaan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu memenangkan kompetisi politik, tetapi juga memahami makna kemanusiaan dari kekuasaan yang ia pegang.
Geopolitik dan Kebutuhan Solidaritas Antarbangsa
Dunia modern sebenarnya telah membangun berbagai institusi internasional untuk menjaga stabilitas global. Diplomasi multilateral, hukum internasional, dan berbagai forum kerja sama antar negara lahir dari kesadaran bahwa konflik tanpa kendali dapat membawa dunia menuju kehancuran bersama.
Namun institusi saja tidak cukup jika kesadaran moral dalam politik tidak berkembang. Filsafat makrifat politik mengajarkan bahwa hubungan antar negara tidak seharusnya dibangun semata atas dasar kepentingan strategis, tetapi juga atas dasar solidaritas kemanusiaan.
Solidaritas antar bangsa bukanlah konsep yang sentimental. Ia merupakan kebutuhan rasional dalam dunia yang semakin saling terhubung. Krisis ekonomi, perubahan iklim, konflik militer, dan migrasi global menunjukkan bahwa nasib manusia di berbagai belahan dunia saling berkaitan.
Karena itu, kekuasaan yang benar-benar kuat bukanlah kekuasaan yang menundukkan bangsa lain, melainkan kekuasaan yang mampu menjaga keseimbangan dunia melalui kerja sama dan tanggung jawab moral.
Kekuasaan yang Kuat, tetapi Bijaksana
Dalam filsafat politik, kekuatan sering dianggap sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari negara. Negara yang lemah sulit melindungi rakyatnya, dan negara yang tidak memiliki kemampuan strategis mudah menjadi korban dominasi pihak lain.
Namun kekuatan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi ancaman bagi peradaban. Karena itu kekuasaan harus menemukan keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.
Jika sebuah bangsa harus menjadi besar dan kuat seperti seekor gajah, maka ia harus memahami satu hal penting: gajah bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga simbol ketenangan dan kebijaksanaan dalam menggunakan kekuatannya.
Kekuatan yang besar seharusnya tidak digunakan untuk menindas, tetapi untuk melindungi. Kekuatan yang besar seharusnya tidak menciptakan ketakutan, tetapi menciptakan stabilitas.
Kekuatan yang besar seharusnya tidak menghancurkan kehidupan, tetapi menjaga kemaslahatan umat manusia. Dalam perspektif ini, kekuasaan bukanlah alat dominasi, melainkan amanah peradaban.
Politik sebagai Jalan Kemanusiaan
Pada akhirnya, politik adalah refleksi dari kesadaran manusia tentang dirinya sendiri. Jika manusia memandang dunia sebagai arena kompetisi tanpa batas, maka politik akan terus melahirkan konflik.
Namun jika manusia memahami bahwa keberadaan mereka saling terhubung, maka politik dapat berkembang menjadi sarana untuk membangun solidaritas global. Filsafat makrifat politik mengajak kita untuk melihat kekuasaan dari sudut pandang yang lebih luas: kekuasaan adalah tanggung jawab moral terhadap kehidupan manusia.
Di tengah dunia yang sedang diliputi ketegangan geopolitik, refleksi ini menjadi semakin penting. Perang mungkin dapat dimenangkan oleh kekuatan militer, tetapi perdamaian hanya dapat dibangun oleh kebijaksanaan.
Karena itu, masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling bijaksana dalam menggunakan kekuatannya.
Dan di situlah filsafat makrifat politik menemukan maknanya, mengingatkan manusia bahwa kekuasaan sejati bukanlah kekuasaan yang menaklukkan dunia, melainkan kekuasaan yang setia menjaga kemanusiaan.
*) Deden Sulaeman merupakan aktivis senior Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
