Trenggalek bangkit. Trenggalek mentereng. Mungkin itu yang layak dialamatkan untuk jajaran pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setempat. Target merangsek ke papan tengah dalam perolehan medali Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2027 adalah merupakan langkah sensasional. Pendeknya, keluar dari papan bawah dan masuk papan tengah bukan pekerjaan mudah.
Jika melihat kondisi atlet yang ada sekarang tentu menjadi tantangan berat bagi jajaran pengurus untuk bisa mendongkrak posisi klasemen. Ini artinya perlu ada solusi konkret, yakni memutasi atlet asli Trenggalek yang bermain atau menjadi duta daerah lain. Tak terkecuali jajaran pengurus harus gerak cepat (gercep).
Pun demikian dengan para atlet unggulan yang telah menyumbang medali pada Porprov dua tahun lalu juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Misalnya dengan memotivasi agar tidak kepincut atau iming-iming dari daerah lain.Sehingga, perlu kiranya ada sebuah kontrak atau ikatan. Tentu dengan nilai yang sepadan atas capaiannya. Tak dipungkiri para atlet Trenggalek hampir laris manis dipinang daerah lain.
Ada peran penting sekaligus kolaborasi antara KONI dan Pemkab membuat formula agar atlet-atlet tersebut tidak dicomot daerah lain. Khususnya atlet-atlet penyumbang medali emas. Nah, ini momentum bagi Pemkab hadir di tengah masyarakat.
Mutasi atlet bukanlah hal yang tabu, asalkan memang punya darah keturunan Trenggalek. Bahkan sekarang ini mutasi tersebut juga dilakukan oleh pemerintah di beberapa cabang olahraga (Cabor) dengan istilah "Naturalisasi". Termasuk yang paling getol dilakukan oleh PSSI dengan menaturalisasi pemain keturunan eropa.
Tapi juga harus memperhatikan konsep dasar dalam pembinaan atlet agar tidak mencederai proses pembibitan dan pembinaan atlet-atlet daerah. Paling tidak mutasi tersebut dilakukan dalam jangka pendek dengan mengedepankan prestasi yang telah dicapai alias tidak asal comot. Sehingga, bisa menjadi daya ungkit mendongkrak prestasi sekaligus mewujudkan target keluar dari posisi juru kunci.
KONI dan Pemkab harus Duduk Bareng
Mengingat mutasi atlet merupakan sesuatu yang krusial untuk mendongkrak prestasi, KONI dan Pemkab harus menyatukan visi dan misi sekaligus mencanangkan atlet yang akan direkrut dan tak ketinggalan soal anggaran.
Oleh karena itu, perlu adanya tim khusus untuk memantau putra-putri terbaik Trenggalek yang menjadi duta daerah lain. Tidak hanya sekedar diajak pulang kampung, namun harus sesuatu yang memberi ruang atlet betah membela daerahnya.
Apalagi di era sekarang, daerah-daerah lain termasuk kabupaten tetangga akan terus memantau dan memburu atlet berprestasi dan punya kualitas agar mau membela daerahnya.
Kolaborasi KONI dan Pemkab tentu akan menjadi sinyal kuat akan kepedulian olahraga, di mana masyarakat sangat berharap banyak akan prestasi mentereng, baik di level regional maupun nasional. Bahkan kalau perlu di level internasional. Apalagi olahraga di Trenggalek sedang tidak baik-baik saja.
Harus Ahli dan Punya Jaringan Kuat
Tim perumus harus punya data valid akan keberadaan para atlet Trenggalek yang membela daerah atau kabupaten lain. Tak ketinggalan akan prestasi-prestasi yang pernah diraih. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan identifikasi peluang memperoleh medali. Paling tidak bisa menjadi referensi dalam estimasi perolehan medali.
Kemudian, secara personal juga harus melakukan pendekatan secara khusus kepada keluarga yang bersangkutan. Sebab peran orang tua sangat sentral dalam menentukan masa depannya. Apalagi jika atlet tersebut mempunyai prestasi yang luar biasa. Misal pernah menjadi tulang punggung PON Jatim atau Timnas Indonesia.
Tentu saja, iming-iming untuk memperkuat daerah lain cukup tinggi. Salah satu solusinya adalah melakukan pendekatan secara persuasif kepada pihak keluarga terkait agar bisa menjadi jalan keluar.
Tidak Sekadar Dipakai untuk Event
Ini bukan perkara sederhana. Memutasi atlet harus ada landasan kuat dan bukan sekedar asal comot tanpa memperdulikan masa depannya. Ekstrimnya, jangan sampai habis manis sepah dibuang.
Hal ini dikaitkan dengan masa keemasan atau masa edar atlet. Jika saja masa keemasannya sudah pudar, KONI dan Pemkab harus memberi ruang dan tidak dibiarkan begitu saja. Misal difungsikan sebagai pelatih atau tim pemandu bakat. Kalau perlu bisa berbagi ilmu kepada generasi muda Trenggalek.
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
