Berbahaya Bagi Kesehatan Anak, Pakar Gizi UGM Desak MBG Tak Lagi Pakai Susu UPF

Perhatikan Kondisi Gizi Lokal, Sekolah Diusulkan Diberi Peran Lebih Besar

8 Januari 2026 10:30 8 Jan 2026 10:30

Thumbnail Berbahaya Bagi Kesehatan Anak, Pakar Gizi UGM Desak MBG Tak Lagi Pakai Susu UPF

Susu UPF yang terdapat dalam menu MBG, dinilai bisa membahayakan kesehatan anak dalam jangka panjang. (Foto: Suara.com)

KETIK, YOGYAKARTA – Setahun berjalan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih kerap menuai sorotan. Salah satu isu yang dinilai perlu perhatian serius adalah penggunaan susu ultra processed food (UPF) dalam menu MBG, yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bagi anak-anak.

Pakar gizi dari Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada, Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, mengatakan MBG merupakan program strategis untuk memperbaiki status gizi anak. Namun, ia menilai pemilihan jenis pangan, termasuk susu, harus berbasis bukti ilmiah dan konteks kesehatan jangka panjang.

“Program makan siang sekolah adalah investasi kesehatan. Karena itu, kualitas pangan yang diberikan, termasuk susu, tidak boleh diabaikan,” kata Mirza seperti dikutip dari laman resmi UGM, Kamis, 8 Januari 2026.

Menurut Mirza, penggunaan susu UPF atau susu ultraolah dalam program MBG bertentangan dengan kampanye Kementerian Kesehatan terkait pengurangan konsumsi gula, garam, dan lemak. Produk susu UPF umumnya mengandung gula tambahan, perisa buatan, dan zat aditif lain yang tidak dibutuhkan tubuh anak.

Dalam jangka panjang, konsumsi susu UPF akan berbahaya bagi kesehatan dan masa depan anak.

“Dampaknya memang tidak langsung. Tapi dalam 10 hingga 15 tahun, konsumsi rutin produk ultraolah bisa menjadi pemicu penyakit kronis,” ujarnya.

Perhatikan Lokalitas Kebutuhan Gizi

Ia menambahkan, pendekatan seragam dalam penyediaan menu MBG, termasuk distribusi susu UPF secara massal, meningkatkan risiko ketidaksesuaian dengan kondisi gizi dan kebiasaan pangan lokal.

“Anak di Papua, Jawa, dan Sumatra memiliki pola konsumsi berbeda. Menyeragamkan menu berbasis produk ultraolah justru mengabaikan konteks lokal,” kata dia.

Selain aspek gizi, Mirza juga menyoroti risiko keamanan pangan. Ia menilai pengelolaan makanan dalam skala besar, termasuk distribusi susu UPF, membutuhkan pengawasan ketat. Kasus keracunan massal yang terjadi dalam pelaksanaan MBG menjadi indikator lemahnya sistem pengawasan.

Ia mengusulkan agar sekolah diberi peran lebih besar dalam pengelolaan menu, termasuk pemilihan sumber protein dan minuman pendamping yang lebih segar dan berbasis pangan lokal.

“Dengan cakupan lebih kecil, pengawasan lebih mudah dan risiko bisa ditekan,” ujarnya.

Mirza menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak bisa diukur dalam waktu singkat. Dampak perbaikan gizi baru terlihat setelah satu siklus pendidikan. Karena itu, ia mendorong evaluasi berkala dan kebijakan yang terbuka terhadap koreksi ilmiah.

“Kalau sejak awal salah memilih pangan, risikonya akan ditanggung anak-anak di masa depan,” pungkasnya.

Ultra processed food (UPF) atau makanan olahan ekstra adalah jenis makanan yang mengalami proses pengolahan tinggi di pabrikan. Salah satu ciri khasnya adalah adanya komposisi seperti pemanis buatan, pewarna buatan, perasa buatan hingga penguat rasa, seperti dikutip dari Asosiasi Dietsin Indonesia (AsDI). 

Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang menyatakan pihaknya melarang penggunaan susu UPF pada menu MBG bagi anak-anak. Namun sikap berbeda justru ditunjukkan oleh Ketua BGN, Dadang Hindayana. (*)

Tombol Google News

Tags:

MBG Makan bergizi gratis Kontroversi MBG Susu UPF pada MBG Ulta Processed Food