KETIK, SURABAYA – Setiap tahun, saya selalu menunggu satu momen paling jujur dalam kalender hidup manusia Indonesia. Bukan Lebarannya. Bukan takbirannya. Tapi momen ketika seseorang — dengan muka serius, mata setengah mengantuk, dan nada suara seperti orang baru turun dari gunung — berkata kepada bosnya: "Mohon maklum ya, Pak. Lagi puasa."
Dan kalimat itu, entah kenapa, dianggap cukup untuk menjelaskan segalanya. Kenapa laporannya telat. Kenapa proyeknya mangkrak. Kenapa ia duduk di kursi dengan posisi seperti orang menunggu bus yang tidak jelas kapan datangnya.
Saya tidak sedang menghakimi. Saya sedang mengajak kita semua untuk jujur.
Karena kalau kita mau benar-benar duduk, merenung, dan membaca sejarah dengan mata terbuka — Ramadan tidak pernah lahir sebagai bulan istirahat nasional. Bulan suci ini lahir sebagai bulan paling heroik dalam peradaban Islam. Di bulan inilah Perang Badar terjadi. Di bulan inilah Fathu Makkah — penaklukan Kota Suci — berlangsung.
Di bulan inilah Al-Qur'an diturunkan. Tidak ada satu pun dari peristiwa besar itu yang terjadi karena umat Islam memilih tidur siang sambil menunggu azan Maghrib. Ramadan bukan bulan pelambatan melainkan bulan akselerasi jiwa
Pasar yang Hidup, Ekonomi yang Bernapas
Coba perhatikan kota Anda di bulan Ramadan. Perhatikan dengan seksama, bukan sekadar lewat. Pedagang takjil yang biasanya hanya berjualan gorengan di pojok gang tiba-tiba membuka lapak dengan deretan kolak pisang, es buah, kurma, hingga martabak basah yang mengepul.
Ibu-ibu yang sebelas bulan sebelumnya hanya memasak untuk keluarga, di bulan ini tiba-tiba berubah menjadi produsen kue nastar, rendang, dan opor ayam pesanan tetangga. Warung kopi yang tutup sebelum subuh, di bulan ini sudah ramai sejak pukul tiga pagi karena orang-orang datang sahur.
Ini bukan sekadar fenomena sosial. Ini adalah pergerakan ekonomi yang nyata, yang organik, yang tumbuh dari bawah tanpa perlu stimulus kebijakan moneter dari bank sentral mana pun.
Ramadan adalah festival ekonomi kerakyatan yang paling konsisten terjadi setiap tahun di negeri ini.
Data tidak bohong. Setiap Ramadan, konsumsi rumah tangga meningkat tajam. Transaksi di pasar tradisional melonjak. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi bangsa ini — justru merasakan panen di bulan yang orang kira adalah bulan berpantang. Uang berputar.
Tangan-tangan yang biasanya hanya menerima upah, di bulan ini ikut merasakan menjadi penjual. Menjadi pelaku usaha. Menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih panjang.
Ada seorang perempuan di kampung saya — sebut saja Bu Ningsih — yang sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu. Penghasilannya cukup untuk makan, tapi tidak cukup untuk bermimpi. Tapi setiap Ramadan, ia berubah.
Ia bangun jam dua pagi, memasak ratusan porsi lontong sayur dan kue-kue tradisional, lalu membuka lapak sahur di depan rumahnya. Selama tiga puluh hari penuh, Bu Ningsih bukan lagi pembantu. Ia adalah pengusaha. Ia adalah bos dari dirinya sendiri.
Itulah salah satu hikmah Ramadan yang jarang kita bicarakan dengan serius di mimbar maupun di layar televisi: bahwa bulan ini adalah ladang ekonomi yang menumbuhkan keberanian orang kecil untuk mencoba, untuk berjualan, untuk bergerak.
Islam, dari dulu, tidak pernah memusuhi pasar. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang. Beliau tahu betul bagaimana caranya menimbang dengan adil, melayani pembeli dengan jujur, dan membangun kepercayaan sebagai modal paling berharga dalam setiap transaksi. Maka ketika Ramadan datang dan pasar-pasar meledak ramai, itu bukan anomali. Itu adalah sunnah yang berjalan.
Lapar Bukan Alasan untuk Berhenti Bergerak
Mari kita bicara tentang hal yang lebih dalam dari sekadar ekonomi. Ada sebuah kesalahpahaman besar yang sudah terlanjur mengakar kuat dalam budaya kita: bahwa lapar adalah kondisi yang membuat kita tak berdaya. Bahwa perut kosong berarti semangat kosong. Bahwa karena kita tidak makan dari subuh hingga Maghrib, maka kita berhak — bahkan dianjurkan — untuk memperlambat segalanya.
Ini bukan ajaran Islam. Ini adalah pembenaran yang kita ciptakan sendiri untuk kenyamanan kita sendiri.
Coba renungkan sejenak apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh dan jiwa kita ketika berpuasa. Secara fisik, tubuh kita memang kekurangan asupan. Tapi secara mental — secara spiritual — ada sesuatu yang justru sedang dilatih untuk menjadi lebih kuat. Pengendalian diri. Kesabaran. Fokus. Kemampuan untuk menunda kepuasan demi tujuan yang lebih besar.
Bukankah itu justru modal paling berharga yang dibutuhkan oleh siapa pun yang ingin sukses dalam hidupnya?
Para atlet olimpiade berlatih dalam kondisi fisik yang melelahkan justru karena mereka ingin tubuh dan mentalnya terbiasa berprestasi bahkan di bawah tekanan.
Para pengusaha besar yang kita kagumi hari ini — mereka tidak membangun kerajaan bisnis mereka di hari-hari ketika semuanya mudah dan nyaman. Mereka membangunnya justru di hari-hari paling sulit, paling sempit, paling menekan.
Puasa, kalau kita mau jujur, adalah simulator kehidupan yang paling efektif. Ia mengajarkan kita bahwa kita bisa berfungsi bahkan ketika tidak dalam kondisi ideal. Bahwa produktivitas tidak harus bergantung pada perut yang kenyang dan kantong yang penuh. Bahwa ada cadangan kekuatan di dalam diri kita yang tidak akan pernah kita temukan selama kita selalu memilih jalan yang paling nyaman.
Ramadan Mengajarkan Disiplin yang Tidak Bisa Dibeli
Satu hal yang membuat saya selalu takjub dari bulan Ramadan adalah betapa ia mampu mengubah ritme kehidupan jutaan orang secara serempak dan sukarela.
Orang yang biasanya susah bangun jam enam pagi, di bulan Ramadan dengan mudah terjaga pukul tiga untuk sahur. Orang yang biasanya tidak pernah menyentuh Al-Qur'an, tiba-tiba setiap malam duduk di sajadah dengan mushaf di tangan. Masjid-masjid yang sebelas bulan sebelumnya hanya ramai di hari Jumat, tiba-tiba penuh sesak dari subuh hingga tarawih.
Bayangkan jika disiplin semacam itu — bangun lebih awal, beribadah lebih tekun, mengatur waktu lebih sadar — tidak hanya berlangsung selama tiga puluh hari, tapi menjadi cara hidup sepanjang tahun.
Bayangkan produktivitas bangsa ini jika semangat Ramadan tidak kita tinggalkan begitu saja di malam takbiran.
Ramadan sejatinya bukan bulan untuk kita "survive" dengan tidur siang berjam-jam sambil menunggu berbuka. Ramadan adalah bootcamp spiritual — pelatihan intensif selama sebulan penuh untuk menjadi versi diri kita yang lebih baik, lebih disiplin, lebih produktif, lebih peduli pada sesama.
Hikmah yang Sering Kita Lewatkan
Di ujung kolom ini, saya ingin mengajak Anda untuk mencoba satu hal sederhana: di Ramadan tahun ini, putuskan satu target yang ingin Anda capai. Bukan hanya target ibadah. Tapi juga target kehidupan.
Mungkin Anda ingin mulai berjualan sesuatu — apapun yang bisa Anda buat atau Anda jual. Mungkin Anda ingin menyelesaikan proyek yang sudah lama tertunda. Mungkin Anda ingin belajar keterampilan baru, membangun kebiasaan baru, memperbaiki hubungan yang retak.
Gunakan energi yang biasanya habis untuk memikirkan makanan — untuk memikirkan masa depan.
Karena Ramadan, pada intinya, adalah tentang menjadi lebih. Lebih taqwa, ya. Tapi juga lebih gigih. Lebih kreatif. Lebih bermanfaat. Lebih hidup.
Lapar boleh. Loyo jangan. Perut boleh kosong. Semangat haram kosong. Ramadan Kareem — bulan penuh hikmah, bukan bulan penuh alasan.
____________________
"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka." — Imam Al-Ghazali
*) Penulis: Direktur Yayasan Belajar Bersama Tafaqquh Fiddin Surabaya
*) Riwayat Studi:
- S1 Umm Al-Qura University Makkah (1996)
- Pascasarjana S2 di UMS Surabaya (2022)
- Pascasarjana S3 Studi Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya (2025)
