KETIK, SURABAYA – Bulan Ramadan sering dipandang sebagai momentum bagi tubuh untuk beristirahat sekaligus melakukan proses detoksifikasi secara alami. Namun, tidak sedikit orang justru mengalami gangguan kesehatan setelah Ramadan, termasuk masalah pada ginjal.
Hal ini umumnya bukan disebabkan oleh puasanya, melainkan kebiasaan yang kurang tepat saat berbuka maupun sahur.
Dalam sebuah video edukasi kesehatan di kanal YouTube miliknya yang diunggah pada tanggal 24 Februari 2026, dr. Saddam Ismail atau yang akrab disapa dokter Saddam menjelaskan bahwa puasa pada dasarnya tidak merusak ginjal. Sebaliknya, puasa dapat memberikan waktu istirahat bagi organ tersebut.
Menurutnya, kerusakan ginjal justru sering dipicu oleh pola makan dan minum yang tidak sehat selama Ramadan.
“Banyak orang menyalahkan puasa saat ginjal mereka bermasalah. Mereka mengira menahan haus belasan jam itu merusak organ dalam. Fakta medis menunjukkan sebaliknya, puasa justru memberikan waktu istirahat bagi ginjal,” jelas Dokter Saddam.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan tertentu yang dianggap sepele ternyata dapat memberikan beban berat pada ginjal jika dilakukan terus-menerus selama Ramadan.
Salah satu kebiasaan yang sering terjadi adalah mengonsumsi minuman manis dingin saat berbuka puasa, seperti es teh manis atau sirup. Menurut Dokter Saddam, minuman tersebut mengandung gula cair yang sangat tinggi sehingga dapat dengan cepat meningkatkan kadar gula dalam darah.
“Minuman manis mengandung kadar gula cair yang sangat tinggi. Gula tersebut langsung masuk ke aliran darah dan membuat kadar gula melonjak drastis. Ginjal harus bekerja keras menyaring darah yang menjadi lebih kental akibat gula,” ujar Dokter umum tersebut.
Selain itu, konsumsi gorengan dan makanan tinggi garam juga dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan ginjal. Kandungan natrium yang tinggi dalam makanan asin dapat meningkatkan tekanan darah, yang pada akhirnya berisiko merusak pembuluh darah kecil di ginjal.
Kebiasaan lain yang perlu dihindari adalah minum kopi atau teh saat sahur. Kandungan kafein di dalamnya memiliki efek diuretik yang dapat memicu tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
“Kopi dan teh mengandung kafein yang bersifat diuretik. Zat ini memaksa ginjal membuang cairan lebih cepat sehingga tubuh bisa mengalami dehidrasi saat siang hari,” ujar konten kreator kesehatan tersebut.
Ia juga mengingatkan agar tidak minum air putih dalam jumlah besar sekaligus menjelang imsak. Menurutnya, tubuh tidak dapat menyerap air secara mendadak dalam jumlah banyak.
“Tubuh manusia tidak bekerja seperti tangki penyimpanan air. Jika kamu minum banyak sekaligus, ginjal akan langsung membuang kelebihan air tersebut,” katanya.
Untuk menjaga kesehatan ginjal selama Ramadan, ia menyarankan agar masyarakat memperbaiki pola makan dan minum. Ia menganjurkan pola minum bertahap, seperti metode 2-4-2, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas pada malam hari, dan dua gelas saat sahur.
“Puasa bisa membawa manfaat kesehatan jika pola asupan diatur dengan benar. Kurangi minuman manis, batasi makanan asin, hindari kopi saat sahur, dan minum air putih secara bertahap,” pungkasnya.(*)
