KETIK, JAKARTA – Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan penuh berkah bagi umat Islam. Namun dalam sejarah Islam, bulan suci ini juga menyimpan kisah duka bagi Nabi Muhammad SAW, yakni wafatnya istri tercintanya, Siti Khadijah al-Kubra.
Melansir NU Online pada Sabtu 7 Maret 2026, Siti Khadijah wafat pada 11 Ramadan tahun ke-10 kenabian. Saat itu usianya sekitar 65 tahun, sedangkan Rasulullah SAW berusia sekitar 50 tahun.
Kepergian Khadijah menjadi salah satu peristiwa yang membuat tahun tersebut dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuznī atau tahun kesedihan dalam kehidupan Rasulullah.
Sebelumnya, Rasulullah juga kehilangan pamannya, Abu Thalib, yang selama ini melindungi dari tekanan kaum Quraisy. Kehilangan dua sosok penting dalam waktu berdekatan membuat Rasulullah SAW sangat berduka.
Siti Khadijah dikenal sebagai orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW ketika wahyu pertama kali turun. Khadijah dikenal sebagai sosok yang selalu membenarkan dan mendukung dakwah Rasulullah di tengah banyak orang yang meragukannya.
Khadijah tidak hanya memberi dukungan moral, tetapi juga membantu perjuangan Nabi dengan hartanya di masa awal dakwah Islam.
Keistimewaan Siti Khadijah juga disebutkan dalam sebuah hadis ketika Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah membawa kabar khusus tentang dirinya.
Dalam riwayat disebutkan, Malaikat Jibril meminta Rasulullah untuk menyampaikan salam dari Allah SWT kepada Khadijah ketika ia datang membawa wadah berisi makanan atau minuman.
Kabar itu menjadi salah satu kemuliaan terbesar bagi Siti Khadijah. Ia menjadi sosok yang mendapatkan salam langsung dari Allah melalui Rasulullah.
Selain itu, ia juga mendapat kabar gembira berupa rumah istimewa di surga yang di dalamnya tidak ada kebisingan dan keletihan.
Kisah tersebut menunjukkan betapa besarnya peran Siti Khadijah dalam sejarah Islam. Ia tidak hanya menjadi istri Nabi, tetapi juga pendamping setia Rasulullah dalam masa-masa awal perjungan dakwah Islam. (*)
