KETIK, HALMAHERA SELATAN – Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba mengapresiasi berbagai pihak yang telah menginisiasi dan menyukseskan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Sejuta Hikmah Ramadan (SAHARA IX) dan Tadabbur Sirah.
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus langkah awal untuk mengangkat kembali jejak sejarah tokoh pers perempuan asal Halmahera Selatan, Princes Van Kasiruta atau yang dikenal sebagai Boki Fatimah.
“Secara pribadi dan atas nama pemerintah daerah, kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah menginisiasi dan menyukseskan kegiatan ini,” ujar Bassam dalam sambutannya di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan, Sabtu 7 Maret 2026.
Kegiatan diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dosen Universitas Khairun Ternate Irfan Ahmad, Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin, serta Ompu juru tulis Ra Ibnu Tufail Iskandar Alam.
Turut hadir unsur Forkopimda, pimpinan OPD, Ketua TP PKK Halmahera Selatan Rifa’at Al Sa’adah, Ketua Gabungan Organisasi Wanita Halmahera Selatan Rosdiana Bopeng, perwakilan LSM, organisasi wartawan Persatuan Wartawan Indonesia, serta para pelajar.
Kegiatan tersebut diinsiasi Gema Suba bersama TP PKK Halmahera Selatan.
Bassam menilai, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam perspektif historiografi, yakni upaya menggali kembali data dan referensi sejarah secara sistematis.
Melalui pendekatan ilmiah itu, tokoh perempuan dari Kasiruta tersebut diharapkan dapat memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sejarah nasional.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sosok jurnalis perempuan hebat asal Halmahera Selatan yang dikenal sebagai Princes Van Kasiruta atau Boki Fatimah,” kata Bassam.
Ia berharap forum diskusi tersebut tidak berhenti pada tataran wacana. Lebih dari itu, forum tersebut diharapkan mampu menghimpun sumber sejarah yang kredibel dan dapat menjadi landasan akademik dalam proses pengusulan Boki Fatimah sebagai pahlawan perempuan nasional.
“Kita berharap melalui forum ini dapat menggali data dan referensi sejarah yang kuat sebagai dasar untuk mengusulkan Princes Van Kasiruta atau Boki Fatimah sebagai pahlawan perempuan nasional,” jelasnya.
Dalam pandangan Bassam, kontribusi perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa memiliki dimensi yang sangat luas, termasuk dalam perkembangan dunia pers. Perspektif ini sejalan dengan kajian sosial modern yang menempatkan perempuan sebagai aktor penting dalam proses transformasi masyarakat.
Bassam menegaskan bahwa pengakuan terhadap tokoh-tokoh lokal merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran sejarah kolektif di tengah masyarakat. Menurutnya, pemahaman sejarah yang kuat akan membantu generasi muda melihat bahwa daerah juga memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.
“Pengakuan terhadap tokoh-tokoh lokal penting untuk membangun kesadaran sejarah kolektif. Generasi muda perlu mengetahui bahwa daerah juga memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah bangsa,” ujar Bassam.
Pada kesempatan itu, Bassam juga menekankan bahwa forum diskusi seperti ini tidak hanya menjadi ruang dialog akademik, tetapi juga bagian dari proses intelektual untuk merawat ingatan sejarah daerah. Ia berharap kajian tentang Boki Fatimah terus dikembangkan melalui penelitian yang lebih mendalam.
“Forum seperti ini menjadi ruang refleksi sekaligus kajian akademik untuk menggali kembali kontribusi tokoh perempuan dari Halmahera Selatan dalam perjalanan pers di Indonesia,” tandasnya
