KETIK, HALMAHERA SELATAN – Sejarah pers Indonesia kerap dimulai dengan nama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo sebagai pelopornya. Namun ada nama lain yang hampir tak pernah terdengar: Boki Fatimah.
Ia adalah seorang perempuan dari Kesultanan Bacan yang dalam arsip kolonial Belanda tercatat sebagai Princes van Kasiruta.
Pada Sabtu, 7 Maret 2026, jejak Boki Fatimah kembali menjadi topik utama dalam diskusi di Bacan, tepatnya di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan. Acara Focus Group Discussion bertema Satu Perempuan untuk Kebangkitan Jurnalis Nusantara itu digelar untuk menggali peran perempuan dalam dunia pers.
Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar membahas sejarah semata, melainkan juga upaya menghidupkan kembali ingatan tentang seorang perempuan yang selama ini mungkin tersisih dari cerita besar bangsa.
“Melalui forum ini kita berharap dapat menggali data dan referensi sejarah yang kuat sebagai dasar untuk mengusulkan Princes van Kasiruta atau Boki Fatimah sebagai pahlawan perempuan nasional,” kata Bassam.
Sejarawan dan Akademisi Unkhair Ternate Irfan Ahmad menegaskan bahwa Boki Fatimah bukan tokoh fiksi. Namanya tercantum jelas dalam arsip kolonial Belanda. Ia adalah anak Sultan Muhammad Sadiq Syah, penguasa Bacan pada 1862–1889, dan saudara perempuan Sultan Muhammad Oesman Syah yang memimpin awal abad ke-20.
Klarifikasi ini penting. Banyak tulisan populer salah menyebut Boki Fatimah sebagai putri Sultan Oesman Syah. Padahal, arsip kolonial menunjukkan ia memang kakak perempuan Sultan yang berkuasa saat itu.
Perbedaan ini terlihat kecil. Namun bagi penelitian sejarah, informasi seperti itu menentukan konteks sosial dan politik pada masa itu.
“Memori kolektif kita sering kali menyederhanakan atau bahkan melupakan peran perempuan dalam sejarah,” kata Irfan.
Selama ini, cerita pers Indonesia memang sering diawali oleh tokoh laki-laki. Misalnya, R.M. Tirto Adhi Soerjo dikenal sebagai pelopor pers nasional karena keberaniannya melawan penjajah lewat tulisan di media.
Namun Irfan Ahmad mengatakan sejarah pers sebenarnya lebih berlapis. Di berbagai daerah Nusantara, tokoh lokal juga terlibat dengan media, menulis, atau ikut dalam pergerakan politik zaman kolonial. Boki Fatimah termasuk salah satunya. Dalam arsip Belanda, namanya muncul dengan gelar “Princes van Kasiruta”, tanda bahwa ia seorang bangsawan asal Bacan.
Menurut Irfan, kehadiran nama ini menunjukkan perempuan Maluku Utara sudah ikut membentuk dunia pers jauh sebelum cerita nasional mengenalnya.
Gagasan mengusulkan Boki Fatimah sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar romantisme sejarah lokal. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, seorang calon Pahlawan Nasional hanya bisa diusulkan jika memiliki jasa luar biasa bagi bangsa atau karya yang bermanfaat luas bagi masyarakat. Karena itu, penelitian lebih mendalam menjadi langkah penting.
Irfan mendorong lembaga kearsipan, perpustakaan, dan pemerintah daerah, terutama Dinas Sosial Halmahera Selatan, untuk menelusuri lebih jauh arsip kolonial maupun sumber lokal Kesultanan Bacan. Tanpa riset yang kuat, nama Boki Fatimah akan terus berada di pinggir cerita sejarah.
“Penelitian lebih lanjut penting agar kontribusi tokoh dari Bacan tidak lagi berada di pinggir narasi sejarah nasional,” ujarnya.
Jika suatu hari Boki Fatimah diakui sebagai Pahlawan Nasional, maknanya akan lebih luas dari sekadar penghargaan pribadi. Ia bisa menjadi simbol bahwa sejarah pers Indonesia tidak dibangun oleh satu orang, satu kota, atau satu pulau saja, melainkan oleh banyak suara. Salah satunya adalah suara perempuan asal Bacan yang selama ini nyaris tak terdengar. Mungkin dari pinggiran Nusantara inilah cerita lama yang terlupakan mulai ditulis ulang.
