KETIK, SURABAYA – Persebaya mengumumkan menutup area Tribun Utara Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya, hingga akhir musim kompetisi 2025/2026 berakhir. Tribun tersebut merupakan lokasi Green Nord 27 yang biasanya menyaksikan laga Persebaya.
Dengan kabar ini, bagaimana sikap Green Nord 27? Ketika dihubungi Ketik.com salah satu tokohnya Husain Ghozali tidak mau memberikan komentarnya.
"No comment," dengan ikon emoji balasan Husain Ghozali membalas pertanyaan dari Ketik.com pada Sabtu 7 Maret 2026.
Sebelumnya manajemen Persebaya mengumumkan menutut Tribun Utara Gelora Bung Tomo. Pengumuman itu diunggah Bajul Ijo melalui akun media sosial, salah satunya Instagram pada Kamis 5 Maret 2026.
Alasan penutupan tribun utara karena masif ujaran kebencian dan penyalaan petasan. Keputusan menutup tribun utara diumumkan usai laga melawan Persib.
"Persebaya menutup Tribun Utara Gelora Bung Tomo sampai akhir musim 2025/ 2026.Keputusan tersebut diambil setelah berdiskusi dengan jajaran kepolisian dan stakeholder. Dasarnya adalah marak dan masifnya ujaran kebencian dan penyalaan petasan di Tribun Utara pada Senin lalu, 2 Maret 2026.Demi keamanan dan kenyamanan suporter di dalam stadion, menjaga marwah sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas, saling menghormati, serta kemanusiaan, keputusan untuk menutup Tribun Utara akan mulai diberlakukan pada home game melawan Persita pada 4 April 2026," tulis akun Instagram Persebaya.
Tanggapan Suporter
Langkah manajemen Persebaya menutup tribun utara hingga akhir musim Liga 1 2025/2026 mendapatkan tanggapan dari suporter. Akun Instagram Capo Ipul misalnya, ia mengunggah video mengenai dirinya sambil mengutip kata-kata Tan Malaka mengenai sepak bola.
"Tan Malaka, sepak bola adalah alat perjuangan, juga alat pemersatu anak bangsa. Tentu akhir-akhir ini kita sangat miris melihat beberapa kejadian-kejadian di liga kita, baik itu tentang sepak bola liga maupun suporter," katanya.
Ia berharap kalimat Tan Malaka bisa membuat refleksi diri teman-teman suporter maupun pelaku sepak bola dan para petinggi-petinggi sepak bola di Indonesia.
Sementara dari akun Instagram Warkoppitulikur mengungkapkan, jangan melupakan jasmerah atau jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Dalam keterangannya, Green Nord terbentuk karena generasi muda saat itu punya semangat yang sama, yaitu cikal bakal suporter modern dan memerangi chant-chant rasis.
Jadi, kalau di tribun utara ada sikap serta tindakan yang mengarah ke rasisme dan ujaran kebencian, sesungguhnya merekalah yang merusak Green Nord," tulisnya.
Tak hanya itu, Green Nord, menurut akun Warkoppitulikur juga mengungkapkan, suporter berdiri tegak ketika klub ini (Persebaya) sengaja dihilangkan secara paksa.
"Dan, perjuangan panjang itu berhasil. Sehingga, haram hukumnya bagi Green Nord untuk bersikap dan bertindak untuk merugikan klub yang diperjuangkan dengan darah dan air mata ini. Stop Normalisasi rasisme dan ujaran kebencian berkedok suporter," lanjut keterangannya. (*)
