KETIK, SURABAYA – Puasa sebagai perisai bagi seorang muslim dari berbagai keburukan. Hal ini disampaikan dalam sebuah kajian Ramadan Ustadz Rifky Ja’far Thalib, ia mengangkat hadis muttafaqun ‘alaih, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh dua imam besar hadis, Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam bersabda,“Ash-shiyamu junnatun” yang berarti puasa adalah perisai. Istilah junnah sendiri bermakna tameng atau pelindung, sebagaimana baju besi yang digunakan seorang prajurit saat berperang. Melalui analogi tersebut, puasa dipahami sebagai benteng yang melindungi manusia dari berbagai keburukan, baik di dunia maupun di akhirat.
Ustadz Rifky menjelaskan bahwa sebelum puasa menjadi perisai dari api neraka, puasa terlebih dahulu harus mampu menjadi perisai dari hawa nafsu. Hal ini disampaikannya di YouTube @SuaraAkhirat yang diunggah pada 25 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa seseorang yang berpuasa seharusnya mampu menahan diri dari berbagai perilaku buruk, seperti berbohong, bergunjing, maupun melakukan kecurangan dalam aktivitas sehari-hari. Puasa, menurutnya harus menjadi “rem” yang mengendalikan hawa nafsu manusia.
“Puasa itu harus menjadi rem. Mau berbohong, ingat sedang puasa. Mau bergunjing, ingat sedang puasa,” ujarnya.
Pendakwah asal Indonesia ini juga menerangkan bahwa pembatal puasa tidak hanya dipahami dari sisi hukum fikih. Secara fikih, puasa memang batal apabila seseorang makan atau minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, berhubungan suami istri, mengeluarkan mani dengan sengaja, atau kehilangan kesadaran.
Namun di sisi lain, ada perbuatan yang tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi dapat menghilangkan pahala puasa itu sendiri.
“Ada orang puasa, posone mboten batal, tapi posone digawe rasan-rasan. Batal mboten posone? Ndak. Tapi pahalane entek,” (Ada orang puasa, puasanya tidak batal, tapi puasanya dipakai untuk bergosip. Batal puasanya? Tidak. Tapi pahalanya habis,) jelasnya.
Dalam hadis yang sama, Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berbuat keji.”
Menurut Ustadz salafi tersebut, larangan tersebut tidak hanya berlaku pada ucapan, tetapi juga pada penglihatan dan pendengaran. Jika berbicara tentang hal yang tidak pantas saja dilarang, maka melihat atau mendengarkan hal yang mengarah pada keburukan tentu lebih dilarang lagi.
“Maka kalau tidak mampu menghalangi dari hawa nafsu, ojo ngomong (jangan bicara) puasa menghalangi panjenengan dari neraka. Gak ngefek. Paham mboten?” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa kualitas puasa seseorang dapat dilihat dari kemampuannya menahan hawa nafsu. Jika puasa tidak mampu mencegah seseorang dari perbuatan maksiat, maka puasa tersebut kehilangan makna sebagai perisai.
“Kalau puasa panjenengan tidak mampu menjadi pertahanan dari perbuatan semacam itu, maka itu bukan puasa yang bernilai,” ujarnya.(*)
