KETIK, SURABAYA – Eferadina Salsabila Novariantry, atau lebih akrab disapa Nadin, menorehkan capaian membanggakan di usianya yang cukup muda, 21 tahun. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) itu terpilih sebagai Awardee Student Mobility MBKM Internasional tahun 2026 yang akan dilaksanakan di Sekolah Indonesia Bangkok, Thailand, mulai 1 April hingga 29 Mei 2026.
Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah Kebijakan Kemendikbudristek yang memberikan hak kepada mahasiswa untuk belajar di luar progam studi atau perguruan tinggi. Tujuannya meningkatkan kompetensi praktis, pengalaman dunia kerja, dan fleksibilitas kurikulum.
“Rasanya sangat bersyukur dan senang. MBKM Internasional ini salah satu pencapaianku atau impianku selama aku berkuliah. Ingin belajar bagaimana pendidikan internasional bisa dikolaborasikan dengan pengalaman pendidikan di Indonesia,” ujar mahasiswa asal Mojokerto tersebut.
Dalam program MBKM tersebut, Nadin akan menjalankan asistensi mengajar bagi siswa Indonesia di Bangkok. Ia bahkan berencana membuat proyek pribadi berupa mini podcast untuk menggali perbandingan sistem pendidikan Indonesia dan luar negeri.
Nadin menjadi pembawa acara (mc) pada kegiatan Grand Final Gus Ning 2024 yang diselenggarakan pada Senin, 20 Mei 2024 di Student Central UIN Sunan Ampel Surabaya. (Foto: Nadin for Ketik.com)
Ketertarikan Nadin pada dunia pendidikan dan komunikasi sudah terbangun sejak lama. Ia menempuh pendidikan SMP dan SMA sekaligus mondok di lingkungan Pesantren di Al-Multazam Mojokerto, yang membiasakan penggunaan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-hari. Kemampuan itu kemudian ia kembangkan dengan mengikuti kelas bahasa di Pare.
Perjalanan akademiknya juga dihiasi beragam prestasi. Mahasiswi asal Mojokerto tersebut pernah masuk Top 10 sekaligus meraih ’’Best Speech’’ Puteri Muslimah Award Jawa Timur 2024, Ia juga menjadi Juara Harapan III lomba karya tulis ilmiah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember serta ia telah menerbitkan dua jurnal ilmiah terindeks Sinta 4.
Selain aktif secara akademik, Nadin terlibat dalam berbagai organisasi kampus dan pesantren. Nadin merupakan salah satu pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) di kampus.
Ia juga pernah menjabat sebagai koordinator divisi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Agama Islam, tim media fakultas, hingga pengelola kegiatan akademik. Nadin juga pernah menjadi MC Grand Final Gus & Ning PAI Tahun 2024 di Student Central UIN Sunan Ampel Surabaya. Aktivitas tersebut menuntut kemampuan manajemen waktu yang disiplin.
’’Wawancara pertama pakai bahasa Inggris, terus yang kedua itu tesnya disuruh baca sama nulis Al-Qur'an dan tes yang terakhir ini tentang pengetahuan kita tentang keislaman, moderasi beragama dan kompetensi pedagogik seorang guru gitu’’, ujar peraih ’’Best Speech’’ Puteri Muslimah tersebut.
Menurutnya dukungan keluarga sangatlah penting. ’’Karena setiap keputusan yang tak ambil orang tuaku selalu support (mendukung) gitu,’’ ujar Nadin.
Riwayat pendidikan Nadin dimulai dari MI Nurul Huda 2 Mojokerto, kemudian melanjutkan ke SMP Al-Multazam Mojokerto dan SMA Al-Multazam Mojokerto. Lingkungan pendidikan berbasis pesantren tersebut membentuk karakter disiplin dan kemandiriannya sejak dini.
Di sela kesibukannya, Nadin memiliki hobi membaca, berenang, dan menulis yang turut menunjang kapasitas intelektual serta kreativitasnya sebagai calon pendidik.
Sejak awal berkuliah, Nadin memiliki cita-cita menjadi guru yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Ia ingin menjadi pendidik yang menginspirasi, membangun karakter, serta membuka wawasan siswa agar siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Untuk ke depannya, Nadin berharap pengalaman internasional ini dapat memperluas wawasannya sebagai calon pendidik. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar berani mengambil peluang meski penuh risiko.
“Sekarang bukan soal ada waktu atau tidak, ada kesempatan atau tidak, tapi kita mau mengambil tindakan atau tidak. Kalau berani melangkah, kita juga harus siap menghadapi risikonya. Dari situlah pengalaman akan terbentuk,” pungkasnya. (*)
