KETIK, SURABAYA – Pada bulan Ramadan, tak sedikit orang tua yang mulai mengajak anak-anaknya belajar berpuasa. Semangat mengenalkan ibadah sejak dini pun tumbuh seiring suasana bulan suci yang penuh keberkahan.
Namun, di balik antusiasme tersebut, kerap muncul pertanyaan, pada usia berapa waktu yang ideal untuk mulai mengajarkan anak berpuasa?
Hal ini sempat dibahas oleh Buya Yahya dalam akun TikTok @buyayahyaofficial pada Senin, 23 Februari 2026.
Dalam video tersebut, ia menjelaskan bahwa pendidikan puasa sebaiknya mulai diberikan saat anak memasuki usia tujuh tahun hijriah atau usia tamyiz, yakni ketika anak sudah mampu membedakan baik dan buruk.
“Yang sudah mulai kita ajari berpuasa adalah saat mereka memasuki usia tamyiz, usia 7 tahun hijriah. Sebelumnya kalau tampak fisiknya kuat, boleh kita ajari berpuasa,” ujarnya.
Ia menegaskan, kewajiban puasa baru berlaku ketika anak telah balig. Tanda balig pada perempuan ditandai dengan datangnya haid, yang bisa terjadi sekitar usia sembilan tahun. Sementara pada laki-laki, balig ditandai dengan keluarnya mani.
“Selagi belum balig, masuk usia 7 tahun itu sudah harus kita ajari berpuasa. Kita yang wajib mengajari, tapi puasa belum wajib bagi dia,” tegasnya dalam video tersebut.
Dalam penjelasannya ia menganjurkan orang tua memberi motivasi tentang keutamaan puasa serta membimbing anak berlatih secara bertahap, sesuai dengan kemampuan fisik dan usianya.
Ia juga menekankan bahwa apabila anak terlihat lemas atau tidak kuat melanjutkan puasa, maka tidak masalah jika ia berbuka. Sebab secara syariat, anak tersebut memang belum memiliki kewajiban berpuasa.
“Kalau sampai jam 10 atau 12 siang tampak lemes sekali, dia tidak wajib berpuasa, dia boleh makan. Karena belum wajib,” jelasnya.
Meski demikian, anak tetap perlu diajari untuk menghormati bulan Ramadan, misalnya dengan tidak makan secara sembarangan di hadapan orang yang berpuasa.
Orang tua juga dianjurkan membiasakan anak bangun sahur bersama sebagai bagian dari pendidikan ibadah.
Ia turut mengingatkan agar orang tua tidak menggunakan ancaman atau iming-iming berlebihan dalam membiasakan anak berpuasa, karena dikhawatirkan justru membahayakan kondisi fisik anak.
“Jangan dipaksa, ‘kamu kalau tidak berpuasa awas ya,’ Termasuk memaksa halus dengan, ‘kalau kamu sampai selesai puasa nanti saya belikan sepeda,’ Sehingga karena dia ingin sepeda, dia memaksakan puasa sampai selesai tapi membahayakan fisiknya. Nggak boleh juga,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan yang indah dan penuh kasih sayang menjadi kunci dalam mendidik anak belajar berpuasa, karena pada dasarnya kewajiban itu belum dibebankan kepada mereka, melainkan kepada orang tua untuk membimbingnya.
Hal ini selaras dengan penjelasan dr. Reni Fahriani, Sp.A., selaku dokter spesialis anak dan konselor laktasi. Melalui konten TikTok di akun @dokter.reni.anak pada Rabu, 28 Januari 2026, ia menjelaskan bahwa anak usia 5 atau 6 tahun sudah boleh mulai diajarkan berpuasa.
“Anak usia 5 atau 6 tahun sudah boleh diajarkan untuk berpuasa. Kita kenalkan konsep puasa kepada anak, mulai bangun sahur kemudian puasa pelan-pelan, misalnya puasa 4 jam dulu, 5 jam dulu, 6 jam, dan seterusnya sampai anak kuat,” jelasnya dalam video tersebut.
Lebih lanjut ia menerangkan bahwa anak biasanya bisa mulai mampu berpuasa penuh pada usia sekitar 7 tahun, karena pada usia ini sistem imun atau kekebalan tubuhnya sudah lebih kuat.
Selain itu, anak sudah bisa diajari untuk mengomunikasikan kondisinya kepada orang tua, misalnya ketika merasa lemas sekali karena hipoglikemi (kekurangan gula darah) atau merasa sangat haus karena dehidrasi.
“Yuk ajari anak-anak puasa mulai usia 5 atau 6 tahun,” ajaknya di penghujung video tersebut.
Dengan demikian, baik dari sisi agama maupun kesehatan, anak memang belum memiliki kewajiban berpuasa sebelum balig. Namun, orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengenalkannya secara bertahap, sesuai usia dan kemampuan anak. Pendekatan yang lembut menjadi kunci agar pembiasaan puasa tetap aman sekaligus bermakna bagi tumbuh kembang mereka. (*)
