Ungkapan ‘Berbuka dengan yang Manis’ Sunnah atau Mitos?

3 Maret 2026 01:19 3 Mar 2026 01:19

Thumbnail Ungkapan ‘Berbuka dengan yang Manis’ Sunnah atau Mitos?

Ilustrasi seorang anak laki-laki yang membatasi berbuka dengan yang manis. (Desain: Dina Elwarda/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Banyak masyarakat yang menganggap bahwa berbuka dengan segala hal yang manis adalah sebuah Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sirup, kolak, es buah, hingga aneka takjil manis seolah menjadi “ritual wajib” setiap Ramadan. Namun, benarkah anggapan ini bersumber dari hadis Nabi?

Isu ini turut disinggung oleh Ustaz Gilang Malcom Habiebie melalui akun Instagram @thetawwabins pada Februari 2026. Dalam unggahannya, ia merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Anas bin Malik, mengenai kebiasaan Nabi SAW saat berbuka puasa.

“Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa butir kurma basah sebelum beliau salat. Jika tidak ada kurma basah, maka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada juga, beliau meneguk beberapa teguk air.”

Kurma memang memiliki rasa manis. Namun, bukan berarti berbuka puasa harus selalu dengan makanan atau minuman manis. Yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah berbuka secara sederhana. Jika tersedia kurma, maka itu baik dan sesuai dengan sunnah. Jika tidak ada kurma, maka air putih pun sudah cukup.

Bahkan dalam kondisi tidak tersedia keduanya, seseorang tetap diperbolehkan berbuka dengan apa pun yang ia miliki.

“Menurut nabi berbuka dengan yang sederhana, bukan yang manis,” ujarnya dalam penghujung video tersebut.

Selain pelurusan terkait hadis, isu ini juga menarik perhatian kalangan akademisi sains. Salah satunya adalah Prof. Zulys, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia. Penjelasan ini disampaikan melalui akun TikTok miliknya @prof.zulys pada Rabu, 25 Februari 2026.

Dalam video singkat tersebut ia menjelaskan bahwa secara sains, gula memang dapat menjadi sumber energi yang cepat diserap tubuh setelah seharian berpuasa. Namun, anggapan bahwa “semua yang manis pasti baik untuk berbuka” tidak sepenuhnya tepat.

“Manis itu rasa, bukan ukuran sehat,” ujarnya.

Ia memaparkan, secara kimiawi tubuh memang membutuhkan energi setelah berpuasa. Akan tetapi, energi tidak identik dengan segala sesuatu yang terasa manis.

Rasa manis berkaitan dengan reseptor pada lidah, sedangkan energi berkaitan dengan proses metabolisme tubuh. Peningkatan energi lebih dipengaruhi oleh indeks glikemik suatu makanan, bukan semata-mata tingkat kemanisannya.

Menurutnya, bahan seperti kurma, madu, dan gula aren memiliki indeks glikemik moderat, sekitar 35–60, sehingga lebih stabil dalam meningkatkan gula darah. Sementara itu, gula pasir (sukrosa) dan sirup glukosa memiliki indeks glikemik tinggi, berkisar 65–100, yang dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.

Ia juga menyinggung pemanis buatan seperti siklamat yang tingkat kemanisannya bisa 60 kali lebih tinggi dari gula, atau sukralosa yang bahkan mencapai 600 kali lipat lebih manis. Meski sangat manis, indeks glikemiknya mendekati nol.

“Manisnya tinggi, tapi energinya hampir tidak ada,” jelasnya. Lonjakan gula darah yang terjadi secara drastis justru berisiko menimbulkan sugar crash, yakni kondisi penurunan energi secara tiba-tiba.

Karena itu, menurutnya, bahaya bukan terletak pada rasa manis semata, melainkan pada dosis, frekuensi, dan pola konsumsi. Jika tujuan berbuka adalah mengembalikan energi secara seimbang, maka pemanis buatan bukanlah jawaban utama.

Prof. Zulys juga sempat menyinggung hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Tirmidzi tentang kebiasaan Nabi SAW berbuka dengan kurma. Ia menilai, pilihan tersebut menunjukkan keseimbangan.

“Tubuh kita itu suka keseimbangan. Kenapa kurma? Karena ada gula alami, ada serat dan mineralnya,” tuturnya.

Ia menegaskan, bukan berarti makanan manis tidak boleh dikonsumsi saat berbuka. Namun, tidak semua yang manis dapat langsung dianggap sebagai sunnah.

Pada akhirnya, klimat “berbuka dengan yang manis” mengajarkan bahwa tidak semua yang popular bersumber dari ajaran agama. Kurma memang manis, namun yang dicontokan bukan sekedar manisnya melainkan kandungan kurma itu sendiri.

Dari sisi agama dan sains, keduanya memiliki pesan yang serupa yaitu agama mengajarkan sikap yang porposional dan tubuh membutuhkan energi yang seimbang.

Maka, berbuka boleh dengan apa saja yang tersedia. Namun, memahami mana yang sunnah, mana yang tradisi, dan mana yang sekadar strategi pemasaran adalah bagian dari literasi keagamaan yang perlu terus dirawat.(*)

Tombol Google News

Tags:

Berbuka dengan yang manis Makan manis Minum manis Sunnah Rasul Pengaruh makanan manis