KETIK, SURABAYA – Fenomena Gerhana Bulan yang diperkirakan terjadi pada 3 Maret 2026 kembali memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak yang bertanya, apakah perlu alat khusus untuk menyaksikannya? Apakah aman dilihat dengan mata telanjang? Dan adakah dampak berbahaya yang perlu diwaspadai?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjawab keresahan masyarakat melalui akun YouTube Info BMKG pada 28 Februari 2026. Dalam tayangan tersebut, A. Fachri Radjab selaku Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu menegaskan bahwa gerhana bulan total aman untuk diamati secara langsung tanpa memerlukan alat bantu khusus.
Gerhana bulan total dapat disaksikan dengan mata telanjang. Masyarakat tidak diwajibkan menggunakan teleskop, teropong, ataupun kacamata khusus.
“Disaksikan langsung menggunakan mata telanjang aman, nggak masalah,” jelas Fachri.
BMKG menegaskan bahwa gerhana bulan merupakan fenomena astronomis alami. Peristiwa ini terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus sehingga bayangan Bumi menutupi Bulan.
Karena sifatnya alami dan rutin dalam siklus astronomi, gerhana bulan tidak menimbulkan dampak aneh ataupun berbahaya bagi masyarakat.
Meski tidak berbahaya, gerhana bulan tetap berkaitan dengan fenomena alam lain, khususnya pasang-surut air laut.
“Karena gerhana ini adalah fenomena astronomis tadi ya, tentu ketika bulan purnama ataupun ketika bulan mati itu ada dampak yang disebut dengan kondisi pasang-surut air laut,” jelas Fachri terkait dampak gerhana bulan.
Ketika terjadi fase bulan purnama atau bulan baru, gaya gravitasi Bulan dan Matahari bekerja lebih kuat terhadap Bumi. Kondisi ini dapat menyebabkan pasang air laut menjadi lebih tinggi dari biasanya.
Namun, penting untuk membedakan antara pasang laut dan gelombang tinggi.
Pasang laut adalah kenaikan permukaan air secara menyeluruh akibat tarikan gravitasi Bulan. Sementara gelombang tinggi umumnya dipicu oleh faktor angin.
“Iya, pasang itu memang airnya naik, seluruh permukaan air naik karena kesedot oleh gravitasi bulan tadi tapi kalau gelombang kan oleh angin,” jelas narasumber tersebut.
Dengan kata lain, kenaikan permukaan laut yang terjadi bukanlah akibat badai atau cuaca ekstrem, melainkan proses gravitasi yang wajar dalam dinamika Bumi dan Bulan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan terhadap fenomena gerhana bulan total. Peristiwa ini murni kejadian astronomis yang aman disaksikan.
Selain menjadi momen edukatif untuk memahami ilmu astronomi, gerhana bulan juga dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati keindahan langit malam tanpa rasa cemas.
Dengan demikian, gerhana bulan total bukanlah pertanda bahaya, melainkan fenomena alam yang berlangsung secara teratur dalam sistem tata surya. (*)
