NASA Ungkap Kaitan Gerhana Bulan dan Dinamika Pasang Surut, Ini Fakta Sainsnya

3 Maret 2026 03:22 3 Mar 2026 03:22

Thumbnail NASA Ungkap Kaitan Gerhana Bulan dan Dinamika Pasang Surut, Ini Fakta Sainsnya

Gerhana bulan total di langit malam. (Ilustrasi: Dina Elwarda/Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Fenomena Gerhana Bulan yang diperkirakan terjadi pada 3 Maret 2026 kembali memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kondisi laut.

Secara ilmiah, gerhana bulan tidak menimbulkan efek fisik langsung terhadap perairan, seperti perubahan suhu atau gelombang secara tiba-tiba.

Namun karena gerhana selalu berlangsung pada fase purnama, terdapat kaitan tidak langsung dengan dinamika pasang surut air laut.

Menurut penjelasan National Aeronautics and Space Administration (NASA), pasang surut air laut dipengaruhi terutama oleh gaya gravitasi Bulan serta diperkuat oleh gaya gravitasi Matahari.

Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus seperti saat fase purnama, gaya tarik keduanya terhadap massa air laut saling menguatkan.

Kondisi tersebut menghasilkan fenomena yang dikenal sebagai spring tide atau pasang maksimum, yakni saat permukaan laut mencapai ketinggian lebih tinggi dari rata-rata normal.

Karena gerhana bulan terjadi tepat pada fase purnama, posisi ketiga benda langit sejajar.

Dalam situasi ini, permukaan laut mengalami pasang maksimum sebagaimana yang secara periodik terjadi pada setiap fase purnama maupun bulan baru.

Dengan demikian, dampak terhadap laut bukan berasal dari proses terhalangnya cahaya Bulan oleh bayangan Bumi, melainkan dari konfigurasi gravitasi yang menyertainya.

Fenomena ini merupakan bagian dari siklus alamiah yang juga terjadi setiap bulan, meskipun tidak selalu bertepatan dengan gerhana.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, peningkatan pasang laut memiliki implikasi praktis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fase bulan purnama secara periodik berpotensi menyebabkan pasang laut maksimum di sejumlah wilayah pesisir.

Jika kondisi tersebut bersamaan dengan faktor lain seperti angin kencang, gelombang tinggi, atau tekanan udara rendah, maka risiko genangan pesisir atau banjir rob dapat meningkat.

Dari sudut pandang oseanografi, respons laut terhadap gaya gravitasi bersifat global dan terukur.

Ketinggian pasang berbeda-beda di setiap wilayah tergantung pada bentuk garis pantai, kedalaman laut, serta kondisi topografi setempat.

Dengan demikian, dampak utama gerhana bulan terhadap laut adalah potensi terjadinya pasang maksimum akibat konfigurasi gravitasi Matahari dan Bulan yang sejajar.

Gerhana itu sendiri bukan penyebab langsung perubahan kondisi laut, melainkan bagian dari peristiwa astronomi yang terjadi bersamaan dengan fase purnama.

Pemahaman ilmiah ini penting agar masyarakat tidak mengaitkan fenomena gerhana dengan dampak spekulatif, melainkan melihatnya sebagai bagian dari dinamika alam yang dapat dipantau dan diprediksi secara ilmiah.(*)

Tombol Google News

Tags:

Gerhana bulan Dampak gerhana Dampak gerhana pada laut laut gerhana