KETIK, YOGYAKARTA – Kepresidenan Urusan Agama di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi hingga kini masih menutup rapat informasi mengenai siapa yang akan bertugas memimpin salat Idulfitri 1447 H. Penegasan ini muncul di tengah tingginya antusiasme jemaah menanti pengumuman imam dan khatib untuk dua kota suci tersebut.
Otoritas diperkirakan baru akan merilis daftar resmi beberapa hari atau bahkan beberapa jam sebelum pelaksanaan, mengikuti penetapan jatuhnya 1 Syawal oleh pemerintah Arab Saudi. Untuk tahun 1447 H/2026 M ini, publik dunia Islam masih harus bersabar menunggu keputusan final otoritas Haramain mengenai siapa yang akan memimpin jutaan jemaah di pelataran Ka’bah. Hingga berita ini diturunkan, jajaran nama imam senior masih menjadi kandidat kuat, namun belum ada pernyataan tertulis yang mengonfirmasi formasi final di mimbar utama.
Antara Hisab dan Rukyat
Penentuan tanggal 1 Syawal 1447 H didasarkan pada kombinasi perhitungan astronomi (hisab) dan potensi pengamatan hilal (rukyatul hilal), sebuah metode yang menjadi rujukan utama di banyak negara Islam.
Berbagai lembaga astronomi di Timur Tengah, termasuk International Astronomy Centre (IAC) dan Sharjah Academy, memprediksi Idulfitri di Arab Saudi berpotensi jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Prediksi ini selaras dengan penetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Indonesia yang juga menetapkan 20 Maret 2026 sebagai 1 Syawal melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Parameter kalender global ini dilaporkan telah terpenuhi di Makkah pada 19 Maret dengan ketinggian bulan geosentrik +06° 09′ 09″ dan elongasi geosentrik 08° 05′ 24″.
Di tengah teka-teki sosok imam, otoritas terkait telah memastikan bahwa seluruh infrastruktur ibadah telah disiagakan dengan standar pelayanan tertinggi. Hal ini dilakukan guna menjamin keamanan dan kenyamanan jutaan jemaah yang diprediksi akan memadati masjid-masjid dan lapangan di seluruh penjuru negeri pada hari raya nanti. (*)
