KETIK, JAKARTA – Riuh rendah suara zikir dan langkah kaki ribuan jemaah menggema di koridor Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Di tengah padatnya arus manusia yang mengejar keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadan 1447 H, sebuah pemandangan tak lazim tertangkap kamera kontributor Ketik.com, Muhsin Budiono.
Di antara deretan kursi roda besi dan skuter listrik modern, melintas sebuah gerobak lipat hitam dengan roda kuning mencolok yang ditarik dengan tenang oleh seorang perempuan berabaya cokelat.
Di dalam gerobak yang biasanya digunakan untuk membawa perlengkapan berkemah atau belanjaan itu, seorang bocah laki-laki tampak asyik merebah. Ia tidak tampak gerah atau gelisah meski berada di tengah lautan manusia. Sambil bertelungkup beralaskan kain empuk, sang bocah justru terlihat khusyuk menatap layar ponsel di genggamannya, seolah memiliki dunianya sendiri sementara sang ibu terus melangkah menyelesaikan putaran tawaf.
Penggunaan alat bantu kreatif ini menjadi solusi bagi keluarga yang membawa anak-anak di tengah membludaknya jemaah pada 10 hari terakhir Ramadan. (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)
Fenomena penggunaan gerobak lipat (folding wagon) ini menjadi potret kreativitas jemaah dalam menyiasati kepadatan Makkah di penghujung Ramadan. Saat ketersediaan kursi roda sewaan milik masjid sering kali habis atau antrean skuter listrik memanjang hingga berjam-jam, gerobak lipat muncul sebagai solusi mandiri yang lebih fleksibel.
Alat ini tak hanya berfungsi sebagai tempat istirahat bagi anak-anak yang kelelahan, tetapi juga menjadi bagasi berjalan untuk membawa tas punggung, botol zamzam, hingga sajadah tebal untuk iktikaf.
Meski terlihat kontras dengan suasana sakral di sekelilingnya, kehadiran gerobak-gerobak mungil ini memberikan warna humanis di jalur tawaf. Para petugas keamanan atau Asykar yang biasanya ketat mengatur arus, sesekali memberikan jalan bagi kereta-kereta manual ini selama tidak dianggap menghambat laju jemaah lain.
Inilah potret kreativitas orang tua dalam memastikan sang buah hati tetap nyaman beribadah di tengah hiruk-pikuk kota Makkah. (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)
Bagi para orang tua, menggunakan gerobak seperti ini adalah cara bertahan hidup yang paling masuk akal agar ibadah tetap lancar tanpa harus menggendong anak di bawah suhu Makkah yang menantang.
Potret yang diabadikan Muhsin Budiono ini merangkum realitas ibadah modern di Masjidil Haram. Di balik kemegahan arsitektur dan kesakralan ritual, ada usaha-usaha kecil bin kreatif dari para tamu Allah untuk memastikan kenyamanan keluarga mereka. Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, sebuah gerobak lipat sederhana telah berubah fungsi menjadi "kendaraan kencana" yang mengantar doa-doa kecil menuju Baitullah. (*)
