KETIK, JAKARTA – Gemuruh selawat dan langkah kaki ribuan jemaah bergema di bawah pilar-pilar marmer Masjidil Haram. Memasuki fase sepuluh malam terakhir Ramadan, kiblat umat Islam ini berubah menjadi lautan manusia yang tak pernah tidur.
Gelombang jemaah dari berbagai penjuru dunia tumpah ruah, mengejar keberkahan malam Lailatul Qadar yang dinanti dalam suasana spiritual yang sangat kental.
Bagi jemaah yang hendak melaksanakan umrah di masa puncak ini, niat tulus saja tidak cukup karena dibutuhkan strategi matang untuk menembus kepadatan area mataf agar ibadah tetap khusyuk dan kondisi fisik tetap terjaga.
Ahmad, seorang jemaah asal Madura, Jawa Timur, tampak menyeka keringat setelah berhasil menyelesaikan tawaf di tengah kepungan massa yang luar biasa padat.
Ia mengakui bahwa tantangan fisik di akhir Ramadan jauh lebih berat dibanding hari-hari awal karena arus manusia yang seolah tak terputus.
Menurut pengamatan Ahmad, jemaah perlu memiliki strategi khusus dan memilih waktu tersendiri agar tidak terjepit dalam kerumunan yang berisiko.
Ia menyebutkan bahwa waktu paling padat terjadi pada malam-malam ganjil, seperti malam ke-21 atau yang sering disebut selikuran, hingga puncaknya pada malam ke-27 saat jemaah dipastikan akan berjubel memenuhi setiap jengkal lantai masjid.
Senada dengan Ahmad, Ubaidillah jemaah asal Jepara, Jawa Tengah, berbagi pengalamannya saat mencoba menembus barisan jemaah di area Sa'i. Ubaidillah menekankan pentingnya kesabaran ekstra dan pemilihan momentum yang tepat agar tidak kehabisan tenaga sebelum rangkaian ibadah usai.
Menurutnya, beribadah di tengah jutaan orang membutuhkan manajemen energi yang baik. Ubadillah mengisahkan bahwa ia lebih memilih menunggu hingga arus sedikit melandai demi menjaga kekhusyukan.
Ia merasa bahwa jika dipaksakan masuk saat puncak keramaian, fokus ibadah sering kali terpecah karena harus menjaga keseimbangan badan agar tidak terdorong atau terpisah dari rombongan.
Berdasarkan pantauan langsung tim Ketik.com di lapangan serta merujuk pada keterangan sejumlah mukimin yakni sebutan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah lama menetap, bekerja, atau belajar di Arab Saudi, terdapat beberapa jendela waktu yang relatif lebih tenang untuk melaksanakan umrah.
Waktu pertama adalah pagi hari setelah salat Subuh, antara pukul enam hingga delapan pagi. Pada jam tersebut, mayoritas jemaah memilih kembali ke penginapan untuk beristirahat setelah rangkaian ibadah malam yang panjang.
Suasana fajar yang sejuk di waktu ini memberikan ruang bagi jemaah untuk melakukan tawaf dan sa’i dengan lebih leluasa sekaligus memperbanyak doa dalam keheningan yang reflektif sebelum matahari naik tinggi.
Pilihan kedua yang cukup menantang namun efektif adalah pada tengah hari, sekitar pukul 12 hingga dua siang. Meski matahari Makkah menyengat, area mataf justru cenderung lebih lapang karena banyak jemaah yang menghindari panas ekstrem dan memilih berdiam diri di area teduh atau kembali ke hotel.
Bagi jemaah yang memiliki kondisi fisik prima, waktu ini sangat ideal untuk menghindari himpitan massa, meski tetap disarankan untuk menjaga hidrasi tubuh dengan air zamzam dan menggunakan pakaian yang nyaman.
Selain itu, waktu dini hari antara pukul dua hingga empat subuh juga menjadi rekomendasi utama bagi mereka yang menginginkan atmosfer spiritual yang lebih hening sebelum masuknya waktu Subuh.
Langkah antisipasi juga telah diambil oleh Pemerintah Arab Saudi untuk mengelola arus manusia yang masif ini dengan pendekatan teknologi.
Melansir laporan surat kabar lokal Okaz, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi bahkan telah menerapkan aturan jadwal umrah guna mengendalikan kepadatan di Masjidil Haram.
Berdasarkan data indikator kepadatan, otoritas mencatat bahwa rentang waktu pukul empat sore hingga sepuluh malam merupakan periode dengan kerumunan paling tinggi.
Sebaliknya, tingkat kepadatan pada pukul 11 malam hingga empat dini hari tergolong sedang, sementara pukul delapan pagi hingga tiga sore tercatat relatif lebih ringan di bawah pengawasan sistem kecerdasan buatan.
Untuk mendukung pengelolaan jemaah ini, otoritas Saudi kini semakin mengandalkan perangkat keamanan berbasis teknologi yang mampu memantau jumlah jemaah di area tawaf secara real-time.
Sistem canggih tersebut mengelola arus keluar-masuk pengunjung guna mencegah terjadinya penumpukan yang membahayakan di pintu-pintu utama. Teknologi ini juga berperan penting dalam memperlancar akses menuju kawasan pusat serta mengurai kemacetan bus pengantar jemaah di sekitar area masjid suci.
Melalui kombinasi strategi pemilihan waktu oleh jemaah seperti yang dilakukan Ahmad dan Dwi, serta manajemen teknologi oleh pemerintah, diharapkan ibadah umrah di penghujung Ramadan ini tetap berjalan aman dan penuh berkah.(*)
