KETIK, SURABAYA – Lebaran 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 20 atau 21 Maret 2026. Momen ini identik dengan tradisi mudik, di mana mayoritas umat muslim di Indonesia pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga.
Namun, tidak semua orang bisa merasakan momen tersebut. Ada pula yang harus tetap tinggal di perantauan dengan berbagai alasan.
Salah satunya dialami Kevin Erdinata (22), mahasiswa di salah satu kampus di Surabaya yang mengaku sudah dua kali tidak pulang saat Lebaran.
“Saya dua kali lebaran nggak pulang, saya juga kangen orang tua,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat, 13 Maret 2026.
Pemuda asal Samarinda itu memilih tetap tinggal di Surabaya karena beberapa faktor, terutama keterbatasan biaya perjalanan.
Ia mengaku harga tiket pesawat menjadi pertimbangan utama.
Meski begitu, Kevin tetap menikmati suasana Lebaran di perantauan. Ia bahkan mendapat tawaran dari orang tuanya sebagai bentuk pengganti tidak mudik.
“Saya ditawarin sama ayah saya, kalau tetap di Surabaya bakal dikasih THR yang gede. Soalnya kaya pengganti tiket pulang gitulah. Tau sendirikan berapa tiket pesawat Surabaya ke Samarinda. Uangnya bisa dipake jalan-jalan deh,” ujarnya.
Mahasiswa yang tengah menjalani magang di Lazisnu itu juga mengaku merasakan pengalaman emosional saat terlibat dalam kegiatan sosial terkait mudik.
Ia mendapat amanah untuk membantu penyelenggaraan program mudik gratis, yang membuatnya semakin memahami arti penting pulang kampung bagi banyak orang.
“Tersentuh mas. Melihat wajah mereka berseri-seri ketika hendak mendaftar, senang rasanya bisa membantu mereka (walau secara tidak langsung),” katanya.
Menurut Kevin, mudik bukan sekadar rutinitas tahunan atau formalitas belaka.
Ia menilai, momen tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dengan keluarga.
“Rugi banget, pulang cuma tidur, makan, mainan hp. Eman-eman mereka yang kaya gitu,” imbuhnya.(*)
