KETIK, JAKARTA – Di tengah kepulan asap ketegangan militer antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026, gelombang kepulangan jemaah umrah Indonesia terus di pantau.
Hingga pertengahan Maret ini, tercatat sebanyak 25.922 jemaah telah mendarat dengan selamat di Tanah Air, melewati rute udara yang kian sempit akibat dinamika geopolitik di kawasan Teluk.
Proses pemulangan di tengah bara konflik ini seketika menjadi medan pembuktian bagi Kantor Urusan Haji (KUH) di Jeddah dalam menjamin keselamatan warga negara di zona rawan.
Pemerintah memastikan bahwa tiap manifes penerbangan tetap berada di jalur aman meski risiko gangguan ruang udara internasional terus berfluktuasi.
Staf Teknis Haji KUH Jeddah, M Ilham Effendy, mengungkapkan bahwa konsentrasi pemantauan dipusatkan pada dua gerbang utama, yakni Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan Bandara Internasional Prince Muhammad bin Abdulaziz di Madinah.
Di sebutkan pada pemantauan lapangan Sabtu, 14 Maret lalu, tercatat sebanyak 853 jemaah berhasil diterbangkan kembali ke Indonesia, sementara di saat yang bersamaan, 763 jemaah baru saja mendarat untuk memulai ibadah mereka.
Kegiatan ini bukan tanpa aral melintang. Karut-marut jadwal penerbangan menjadi tantangan harian akibat pembatalan sepihak oleh sejumlah maskapai yang menghindari zona konflik.
Kebijakan ini sempat memicu kekhawatiran terkait jemaah yang tertahan atau stranded di terminal bandara.
Namun, Ilham menekankan bahwa melalui koordinasi intensif bersama otoritas bandara dan penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), kendala tersebut berhasil diurai.
Sinergi ini memastikan jemaah yang sebelumnya mengalami keterlambatan dapat dipulangkan secara bertahap tanpa harus terlantar lebih lama di area transit.
Bagi Kementerian Haji dan Umrah, pengawasan di garda depan bandara saat ini adalah manifestasi nyata dari kehadiran negara di tengah krisis global.
Petugas KUH Jeddah bersama Satgas Bandara terus disiagakan di seluruh area layanan guna memastikan proses kedatangan dan kepulangan berjalan aman serta tertib.
Ilham menegaskan bahwa pengawasan berkelanjutan akan terus dilakukan selama tensi di Timur Tengah belum mereda.
Komitmen ini bertujuan menjamin hak jemaah atas pelayanan dan perlindungan maksimal, memastikan setiap tamu Allah dapat kembali ke dekapan keluarga dengan selamat meski di luar sana bara peperangan masih menyala. (*)
