KETIK, KENDAL – Puluhan siswa SMP IT Ulul Albaab Weleri, Kabupaten Kendalantusias mengikuti kegiatan outing class tahunan yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rowosari, Rabu 4 Februari 2026.
Berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini para siswa diajak terjun langsung mempelajari pembuatan pupuk organik dari sisa dapur dan limbah peternakan.
Kegiatan bertajuk "Go Pertanian, Belajar Mengolah Limbah" ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis kepada siswa mengenai keberlanjutan lingkungan dan kemandirian pangan.
Dalam pantauan di lokasi, para siswa yang mengenakan seragam batik khas sekolah tampak tekun mencatat materi yang disampaikan oleh para penyuluh.
Tidak hanya teori, mereka juga mempraktikkan cara mencacah limbah sayuran, mencampurnya dengan bahan organik lain, hingga proses fermentasi menggunakan cairan EM4.
Limbah-limbah yang biasanya menumpuk di dapur dan kandang, di tangan para siswa ini diolah menjadi pupuk cair dan kompos yang kaya nutrisi bagi tanaman.
PPL Kecamatan Rowosari, Sofyan, yang mendampingi langsung jalannya kegiatan, menekankan pentingnya edukasi pertanian bagi generasi Z. Menurutnya, pemahaman mengenai sistem pertanian organik sangat krusial di tengah tantangan kesehatan global saat ini.
“Pengenalan dunia pertanian sejak dini, terutama budidaya organik, diharapkan dapat menggugah siswa untuk cinta kepada lingkungan dan lebih responsif terhadap kesehatan jangka panjang,” ujar Sofyan di sela-sela pendampingan praktek.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar belajar membuat pupuk. Pihak sekolah berharap melalui outing class ini, siswa dapat menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Interaksi langsung dengan tanah dan limbah organik mengajarkan siswa bahwa tidak ada yang terbuang sia-sia jika dikelola dengan ilmu yang tepat.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar secara akademis, tapi juga memiliki soft skill dalam menjaga ekosistem. Belajar langsung di lapangan seperti di BPP Rowosari ini memberikan kesan yang lebih mendalam bagi mereka,” ungkap salah satu guru pendamping.
Acara ditutup dengan sesi diskusi dan pengamatan hasil olahan pupuk yang telah dibuat. Semangat "Go Pertanian" yang diusung diharapkan terus berlanjut hingga ke lingkungan rumah masing-masing siswa, menjadikan mereka agen perubahan bagi pertanian hijau di masa depan.(*)
