KETIK, SURABAYA – Ramadan dapat menjadi momentum melawan tipu daya dunia yang semakin menggiurkan di era modern. Dalam konten Dr. Oki Setiana Dewi yang berjudul “Tipu Daya Dunia Fana”, dokter yang juga dai ini menyoroti fenomena cinta dunia berlebihan atau hubbud dunya yang kian mengkhawatirkan.
Dr. Oki menjelaskan bahwa banyak Muslim tanpa sadar telah menjual agama demi harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan sesaat. Seperti yang dikutip Dr. Oki dalam hadis Rasulullah SAW dan QS. Al-Ankabut: 64. “Dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Nilainya sangat kecil dibandingkan akhirat, seperti setetes air di ujung jari dibandingkan lautan yang luas,” ujarnya.
Menurut Dr. Oki, Ramadan menawarkan solusi untuk melepaskan diri dari belenggu cinta dunia. Ibadah puasa yang melatih menahan hawa nafsu menjadi cara efektif untuk memutus ketergantungan pada materi dan kesenangan sesaat.
“Puasa mengajarkan kita bahwa kenikmatan itu sementara. Ini simulasi mental untuk menyadari bahwa hidup di dunia pun fana, sehingga kita lebih giat mengejar bekal amal saleh yang abadi,” jelasnya.
Dr. Oki juga menekankan bahwa malam-malam Ramadan dengan tarawih dan tadarus menjadi momen untuk mengobati hati yang tumpul agar kembali merasakan manisnya iman. Kewajiban zakat fitrah dan anjuran sedekah di bulan suci ini turut melatih umat untuk tidak diperbudak harta, menjadi antitesis dari sikap kikir yang merupakan bagian dari tipu daya dunia.
Namun, perlu diingat juga bahwa Ramadan sendiri bisa menjadi ujian. Godaan untuk “menjual agama demi dunia” tetap ada, seperti berbuka dengan cara yang tidak syar’i karena mengikuti tren atau ibadah karena ingin dilihat orang lain.
Menutu penjelasannya, Dr. Oki mengingatkan umat Muslim agar tidak lalai seperti peringatan dalam QS. Al-Hijr ayat 2-3. Ia menegaskan bahwa Ramadan adalah mikroskop yang memperlihatkan seberapa parah penyakit cinta dunia kita.
“Jangan sampai kita termasuk orang yang dibiarkan Allah bersenang-senang dengan angan-angan kosong hingga terlambat menyadari akibatnya di akhirat,” pungkasnya. (*)
