KETIK, PROBOLINGGO – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan pentingnya menunaikan zakat sebagai instrumen penyucian harta dan perlindungan diri bagi umat Muslim. Hal tersebut disampaikan beliau dalam acara khataman kitab Nashoihud Diniyah yang berlangsung di Masjid Jami’ Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Ahad (01/03/26).
Kiai Zuhri menjelaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban formal, melainkan sumber keberkahan yang mencakup aspek keagamaan maupun keduniaan. Beliau menegaskan bahwa orang yang gemar berzakat dan bersedekah tidak akan menjadi miskin, melainkan hartanya akan terus bertumbuh dalam keberkahan.
Mengutip hadis Nabi SAW, Kiai Zuhri menjelaskan bahwa menunaikan zakat dengan hati yang senang dapat menghilangkan sisi buruk atau "kotoran" dari harta yang dimiliki.
"Harta yang dizakati dengan penuh keikhlasan akan terlindung dalam penjagaan Allah. Sebaliknya, harta yang ditahan dan tidak dikeluarkan zakatnya akan kehilangan keberkahannya karena di dalamnya terdapat hak orang miskin yang belum tersampaikan," tutur beliau.
Beliau juga mengingatkan fenomena perubahan perilaku manusia saat diuji dengan kekayaan. Banyak orang yang saat hidup pas-pasan dikenal rajin beribadah dan santun kepada tetangga, namun berubah menjadi lalai dan sombong setelah bergelimang harta. Zakat, menurut beliau, adalah obat agar hati tetap rendah hati dan selamat dari bahaya fitnah harta.
Lebih lanjut, Kiai Zuhri memaparkan dampak buruk bagi mereka yang enggan berzakat, baik secara lahiriah maupun batiniah: Secara Lahir (Dhohir): Harta bisa habis seketika atau pemiliknya menjadi fakir yang selalu mengeluh dan memprotes takdir Allah. Secara Batin: Harta yang dimiliki tidak memberikan manfaat bagi agama maupun kehormatan pemiliknya. Kekayaan tersebut justru menjadi beban dan gagal menutupi aib pemiliknya.
Beliau memberikan ilustrasi tentang seorang wanita kaya raya di Hong Kong yang hidup sebatang kara dan sangat kikir. Setelah meninggal, seluruh hartanya menjadi milik negara tanpa meninggalkan manfaat spiritual bagi dirinya.
Kiai Zuhri menegaskan bahwa sifat dermawan adalah magnet cinta dari sang Khalik dan sesama makhluk. Beliau mengibaratkan sedekah sebagai obat bagi orang yang sakit dan benteng bagi kekayaan.
"Orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sebaliknya, orang yang dermawan dekat dengan Allah, dicintai manusia, dan dekat dengan surga," pungkasnya. (*)
