Tarawih di Masjid Lautze, Imam Estafet Para Mualaf Tionghoa

1 Maret 2026 17:33 1 Mar 2026 17:33

Thumbnail Tarawih di Masjid Lautze, Imam Estafet Para Mualaf Tionghoa

Jamaah saat salat tarawih di Masjid Lautze (Foto: Niesky H Permana/ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Jam menunjukan pukul 17.30, waktu berbuka masih 45 menit lagi, namun warga keturunan Tionghoa sudah mulai berdatangan di Masjid Lautze, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Setiap sepekan sekali selama Ramadan, masjid unik berarsitektur Tionghoa yang didirikan tahun 1991 oleh Yayasan Haji Karim Oei ini menggelar buka puasa bersama mualaf Tionghoa yang berasal dari beberapa daerah di Jabodetabek.

Seperti Deny (40) yang berasal dari Kedoya, Jakarta Barat, pria keturunan Tionghoa asal Bangka, Sumatera Selatan ini baru dua tahun memeluk islam. Tahun ini dua kali sudah merasakan puasa dan rutin ke Masjid Lautze.

“Setiap Sabtu malam Minggu saya menyempatkan ke sini untuk buka puasa bersama mualaf Tionghoa lainnya, biar akrab dan menambah teman mualaf,”ucap pria yang biasa disapa Koh Deny kepada Ketik.com Sabtu , 28 Februari 2026.

Foto Daftar mualaf yang bersyahadat di Masjid Lautze ( Foto : Niesky H Permana / ketik )Daftar mualaf yang bersyahadat di Masjid Lautze (Foto: Niesky H Permana/ketik.com)

Koh Deny biasanya datang 30 menit menjelang berbuka dan baru pulang setelah mengikuti shalat tarawih berjamaah.

Sama halnya dengan Denny, Carlo sudah sejak tahun 2017 rutin setiap Sabtu malam datang untuk buka puasa dan tarawih bareng mualaf Tionghoa. “Setiap Ramadan saya seminggu sekali ke sini, tarawih dan buka puasa bersama. Selain silaturahmi juga menambah teman mualaf,”ucap pria keturunan Tionghoa asal Cengkareng, Jakarta Barat ini yang juga bersyahadat di Masjid ini tahun 2016 silam.

Tidak hanya mualaf keturunan Tionghoa yang datang, warga sekitar yang kebanyakan wanita juga hadir pada buka puasa bersama ini. Mereka juga ikut salat tarawih bersama.

Imam Tarawih Estafet

Ada yang berbeda jika datang untuk salat tarawih ke masjid yang diresmikan oleh Bj Habibie ini. Imam salat tarawihnya bergantian setiap dua rakaat. Pengurus Masjid Lauzte mengistilahkan sebagai “imam estafet”.

Foto Tampak depan Masjid Lautze , berwarna merah dan kuning. Jakarta, Sabtu 28 Februari 2026 ( Foto : Niesky H Permana / ketik.com )Tampak depan Masjid Lautze , berwarna merah dan kuning. Jakarta, Sabtu 28 Februari 2026 (Foto: Niesky H Permana/ketik.com)

Setiap pelaksanaan Tarawih, lima orang imam disiapkan untuk memimpin delapan rakaat salat Tarawih dan tiga rakaat salat Witir.

Para imamnya adalah mualaf Tionghoa, baik yang lama maupun baru menghafal surat-surat yang terdapat di Juz 30 . Menurut pengurus Masjid Lautze, Qiu Xue Long ( 50 ) hal ini dilakukan untuk memotivasi mereka yang sudah belajar baca Al Quran.

“Biar mereka berani tampil dan mempratikan apa yang telah dipelajari,”ucap pria yang berganti nama menjadi Naga Kunadi setelah memeluk islam.

Namun yang agak berbeda , jika dulu imam tarawih estafet ini telah dibuat jadwalnya dan tertulis. Tapi, beberapa tahun ini sifatnya mendadak dan spontan. “Jadi yang hadir saja kita tunjuk sebagai imam, kalau dulu sudah terjadwal,”ucapnya.

Selain kegiatan Tarawih, pada 10 hari terakhir puasa nanti, Masjid Lautze juga mengadakan i’tikaf bersama. Tidak hanya untuk mualaf, kegiatan ini juga terbuka untuk jamaah lainnya.

“Ada itikaf juga nanti, kita sama – sama belajar walaupun itikafnya belum sempurna,”tambah Naga. (*)

Tombol Google News

Tags:

masjid lautze tionghoa Ramadan Hikmah Ramadan