KETIK, SURABAYA – Ramadan sering kali hanya dimaknai sebatas bulan menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Padahal, di balik kewajiban puasa, tersimpan manfaat mendalam yang relevan untuk kehidupan sehari-hari, baik secara spiritual maupun fisik.
Hal ini diungkap oleh Moch. Khoirul Anwar, Wakil Dekan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darul Arqom, dalam wawancara Rabu 25 Februari 2026. Menurutnya, Ramadan sejatinya adalah “kebutuhan” manusia, bukan sekadar beban syariat.
“Allah tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Hanya terkadang manfaat itu masih tersembunyi, atau kita sendiri yang belum mengungkapnya,” ujar Khoirul Anwar yang akrab disapa Pak Yai tersebut.
Ia mencontohkan ayat Al-Baqarah 183 yang menggunakan frasa "kutiba ‘alaikumush shiyam" (diwajibkan atas kamu berpuasa), bukan kataballahu (Allah mewajibkan).
Perbedaan redaksi tersebut memberikan pesan kuat bahwa sebenarnya manusialah yang butuh puasa. Dari sisi kesehatan pun banyak manfaatnya, seperti memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan tubuh.
Lantas, bagaimana dengan fenomena “Ramadan spirit” yang sering kali meredup atau hilang begitu Syawal tiba? Pak Yai menyikapinya dengan analogi yang mudah dicerna.
Dalam kurikulum pendidikan, Ramadan itu punya Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yaitu Takwa. Sama seperti kuliah di setiap prodi yang memiliki target lulusan, kalau setelah Ramadan seseorang tidak menjadi lebih bertakwa, berarti dia belum memenuhi CPL tersebut.
“Kasarnya, dia belum lulus. Ramadan itu ibarat diklat atau latihan intensif. Kalau sudah dilatih tapi balik lagi seperti semula, berarti latihannya belum berhasil,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, nama bulan Syawal sendiri bermakna “peningkatan” sehingga mestinya kualitas ibadah seseorang justru meningkat pasca Ramadan, bukan malah longgar.
Sementara itu, Pak Yai juga memberikan 2 tips praktis agar semangat ibadah tetap menyala setelah Ramadan usai. Pertama, istiqomah dan tidak berlebihan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai adalah sedikit tapi konsisten.
“Kalau berlebihan di awal, biasanya cepat kapok. Lebih baik konsisten dengan porsi yang wajar tapi terus-menerus,” pesannya.
Kedua, nikmati proses ibadah atau ladzatul ibadah. Ketika seseorang melakukan ibadah dengan sepenuh hati dan menikmatinya, akan muncul kepuasan batin yang mendorong untuk terus beribadah.
“Jika kita melakukan sesuatu dengan maksimal dan menikmatinya, akan muncul kenikmatan dalam beribadah tersebut. Itu yang bikin betah,” ujarnya. (*)
