KETIK, SURABAYA – Ramadan identik dengan salat Tarawih. Masjid-masjid penuh dan umat Islam berlomba-lomba menghidupkan malamnya. Namun di balik semarak itu, ada salah satu pertanyaan fiqih yang sering muncul. Manakah yang lebih utama, salat Ba’diyah Isya atau Tarawih?
Rif’iyatul Fahimah, Lc., M.Th.I., atau yang akrab di sapa Fahim menjelaskan dalam mazhab Imam Syafi’i terdapat pendapat kuat yang mengutamakan salat sunnah Rawatib dibanding Tarawih.
“Menurut pendapat yang kuat (al-ashah), salat Ba’diyah Isya lebih utama daripada salat Tarawih,” jelasnya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab Minhaj al-Talibin yang artinya, (meskipun salat sunnah yang dianjurkan berjamaah memiliki keutamaan, pendapat yang paling sahih tetap mengunggulkan salat Rawatib atas Tarawih).
Penjelasan ini juga diperkuat dalam kitab Mughni al-Muhtaj karya Syekh Al-Khathib As-Syirbini. “Rawatib itu menyertai salat-salat fardu. Nabi senantiasa menjaga (mengerjakan secara kontinu) salat rawatib, sedangkan beliau tidak (secara terus-menerus) menjaga salat Tarawih," ujar dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.
Lebih lanjut, ia mengutip hadis Nabi riwayat Tirmidzi dan Abu Dawud tentang keutamaan 12 rakaat Rawatib dalam sehari semalam. Rasulullah Sallallahu’alaihi Wassallam bersabda ’’Barang siapa yang menjaga 12 rakaat tersebut maka akan dibangunkan rumah di surga".
Sementara dalam riwayat Imam Muslim disebutkan “Barang siapa menegakkan (salat malam) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Lulusan S-1 Ilmu Hadis Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir ini menjelaskan bahwa kedua keutamaan ini tidak perlu dipertentangkan. “Masuk surga itu karena rahmat Allah. Sebagian ulama menjelaskan bahwa penghapusan dosa dalam hadis Tarawih mencakup dosa-dosa kecil,” ujarnya.
Ia kemudian memberi analogi menarik.“Kalau Rawatib menjanjikan rumah di surga. Bagaimana rumah dibangun jika tidak ada yang akan menghuninya? Apakah rumah di surga disamakan dengan gedung mangkrak tak berpenghuni seperti di dunia?” ujar dosen asal Malang tersebut.
Menurutnya, Rawatib ibarat membangun aset akhirat, sedangkan Tarawih menjadi bagian dari proses membersihkan diri agar layak menempati rumah tersebut.
“Seorang mukmin jangan hanya sibuk membangun rumah di surga dengan mengerjakan Rawatib, tapi juga memastikan dirinya pantas masuk ke dalamnya. Di situlah Tarawih dan taubat nasuha (taubat yang tulus) dibutuhkan,” tambahnya.
Lalu bagaimana jika seseorang memiliki keterbatasan waktu atau tenaga?
“Jika harus memilih, dahulukan Ba’diyah Isya’ sebagaimana pendapat ulama. Karena ia penyempurna alat fardu dan kedudukannya lebih utama,” tegas Fahim.
Meski demikian, ia mengingatkan agar kita tidak terjebak pada perdebatan soal banyaknya pahala.“Kita ini bukan panitia pahala,” ujarnya ringan. Wallahu a’lam bish shawab.(*)
