7 Sunnah Sahur untuk Optimalisasi Ibadah Ramadan, Simak Penjelasan Ustadz Syafiq

26 Februari 2026 03:30 26 Feb 2026 03:30

Thumbnail 7 Sunnah Sahur untuk Optimalisasi Ibadah Ramadan, Simak Penjelasan Ustadz Syafiq

Ilustrasi melaksanakan waktu sahur. (Desain: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Bulan Ramadan menjadi momentum spiritualitas bagi umat Muslim di seluruh dunia. Salah satu amalan yang berperan penting dalam menjaga stamina tubuh selama berpuasa adalah sahur.

Terdapat sunnah Nabi Muhammad yang dapat diterapkan untuk membuat momen sahur lebih bermakna dan penuh berkah.

Pertama, disunnahkan sahur pada waktu akhir mendekati terbitnya fajar. Rasulullah bersabda, “umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur” (HR. Ahmad).

Hal ini bertujuan agar tubuh mendapatkan asupan energi di waktu yang paling efektif sebelum menahan lapar dan dahaga seharian.

Kedua, memperhatikan kualitas dan kuantitas makanan. Merujuk pada kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah, yang diunggah dalam channel YouTube Dakwah Salafiyah pada 20 Februari 2026, Rasulullah kerap bersahur dengan kurma dan air putih.

“Kombinasi sederhana ini terbukti kaya serat dan mampu memberikan energi tahan lama,” ujarnya.

Hal ini sekaligus menghindari rasa lemas akibat pencernaan yang bekerja terlalu berat.

Ketiga, memanfaatkan waktu sahur untuk memperbanyak doa dan istighfar. Allah memuji orang-orang beriman yang memanfaatkan waktu sahur untuk memohon ampunan, sebagaimana ayat yang dibacakan Ustadz Syafiq, “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan” (QS. Adz-Dzariyat: 18). Momen hening sebelum Subuh menjadi waktu yang mustajab untuk memanjatkan harapan dan doa.

Keempat, menghindari sikap berlebihan dalam makan. Dalam tayangan tersebut, Ustadz Syafiq mengingatkan hadis Nabi “Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan punggungnya” (HR. Tirmidzi).

Konsumsi makanan secukupnya mencegah rasa kantuk dan menjaga produktivitas sepanjang hari.

Kelima, disiplin berhenti makan dan minum saat azan Subuh berkumandang. Prinsip ini sering kali terabaikan lantaran keinginan untuk “menambah porsi” di detik terkahir. Padahal Al-Qur’an menegaskan batasannya, “...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar...” (QS. Al-Baqarah: 187). Ketepatan waktu menjadi keabsahan puasa.

Keenam, tetap berupaya sahur meskipun dengan porsi minimal. Rasulullah bersabda, “Sahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat berkah” (HR. Bukhari Muslim).

Berkah sahur tidak diukur dari kemewahan hidangan, melainkan dari kepatuhan mengikuti tuntunan Nabi, meskipun hanya dengan seteguk air.

Ketujuh, menciptakan suasana kekeluargaan saat sahur. Dengan mengajak anggota keluarga untuk bangun dan makan bersama, sahur tidak hanya memperkuat fisik, tetapi juga membangun ikatan emosional dan spiritual. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk saling mengingatkan pelaksanaan salat Subuh berjamaah.

Selain aspek spiritual, manajemen tidur juga memegang peranan penting. Ustadz Syafiq menyarankan untuk tidur lebih awal setelah pelaksanaan shalat Tarawih. Pola istirahat yang teratur memudahkan seseorang untuk bangun di waktu sahur, sekaligus menjaga konsentrasi saat beraktivitas dan beribadah di siang hari.

Waktu sahur juga bisa dijadikan momen evaluasi diri. Sebelum memulai hari, seorang Muslim dapat menata niat dan menetapkan target ibadah harian.

Dengan perspektif ini, sahur bertransformasi dari sekadar aktivitas fisik menjadi sarana penyegaran jiwa dan penguatan komitmen spiritual.(*)

Tombol Google News

Tags:

sunnah sahur SUNNAH NABI Ramadan Hikmah Ramadan keutamaan sahur muslim