Pemilihan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Trenggalek tinggal menghitung hari. JIka tidak ada aral melintang, pemilihan tersebut akan diselenggarkan pada 31 Januari mendatang yang dikemas dalam Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub).
Beberapa spekulasi pun berkembang. Isu aklamasi semakin menguat, karena dianggap lebih efektif dan bisa dijadikan daya ungkit untuk menjaga eksistensi KONI dan keutuhan secara organisatoris dalam mengemban amanah, yakni mendongkrak prestasi atlet-atlet Trenggalek, baik di tingkat regional ataupun nasional. Tak terkecuali bisa mengoptimalisasi pembinaan atlet-atlet usia dini.
Jika melihat situasi hingga saat ini, tak satupun bakal calon yang menyuarkan untuk ikut bersaing dalam Muskorkablub 31 Januari mendatang. Apalagi tebar pesona. Artinya, potensi pemilihan secara akalamasi kemungkinan besar akan terjadi. Tinggal siapa yang akan diusung oleh cabang-cabang olahraga (Cabor) yang memiliki hak suara untuk memilih.
Pemilihan secara aklamasi bukanlah hal yang haram dalam sistem demokrasi. Selain dianggap bisa menjaga kondusifitas sebuah organisasi, juga untuk memaksimalkan satu misi dalam menjalankan roda organisasi.
Secara umum, ada beberapa nama yang sempat muncul dipermukaan untuk bersaing menjadi orang nomor satu KONI Trenggalek. Namun, seiring berjalannya waktu nama-nama tersebut seakan hilang ditelan bumi. Apalagi waktu yang terus bergulir menjelang Muskorkablub.
Sangat mungkin, filosofi untuk menjadi Ketum KONI itu harus bisa semuanya. Mulai dari ketersedian anggaran, jejaring, dan beberapa faktor non tehnis yang tidak bisa dimiliki semua orang. Sehingga, tidak cukup hanya menang dalam pertarungan perolehan suara, tapi lebih dari itu.
Lalu siapa yang layak pimpin KONI Trenggalek?
Butuh Pemimpin yang Visioner
Setiap orang memiliki gaya kepemimpinan masing-masing dalam memimpin sebuah organisasi. Salah satu yang dihadapkan adalah gaya kepemimpinan yang visioner, yaitu gaya kepemimpinan yang melihat visi kedepan dan mengambil langkah untuk mewujudkannya.
Pun demikian menciptakan ide-ide brilian untuk memajukan organisasi yang dipimpinnya. Tapi perlu keseimbangan yang harus dijaga dengan orang-orang di sekelilingnya agar bisa mewujudkan apa yang menjadi visi dan misinya.
Harus Berani Mengambil Resiko
Pemimpin itu harus berani mengambil resiko untuk ide-ide yang sudah dicanangkan. Pendeknya bisa menjadi jalan mengimplementasikan.
Tak hanya itu, seorang pemimpin harus punya tanggungjawab atas gagasan-gagasan mulai dari awal hingga akhir. Termasuk mewujudkan Kabupaten Trenggalek bisa bersaing di beberapa even, salah satunya di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Paling tidak punya dan tahu akan situasi anggaran di Kabupaten Trenggalek
Kondisi APBD Kabupaten Trenggalek yang angkanya kurang dari Rp 2 triliun tentu akan berdampak pada dana hibah ke KONI. Tentu ini akan menjadi tantangan dan pekerjaan rumah. Tidak menutup kemungkinan angkanya akan mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Nah, ini akan menjadi problematika. Kehadiran sosok pemimpin yang mempunyai daya jelajah dan jejaring yang kuat tidaklah berleebihan jika itu dianggap paling cocok menahkodai KONI Trenggalek.
Siapapun yang akan menjadi Ketua Umum KONI Trenggalek, ada pesan moral yang agak mendalam. Trenggalek harus bangkit dalam persaingan prestasi, minimal dengan kabupaten tetangga. Ingat, Trenggalek itu gudangnya atlet. Semoga.
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
