KETIK, SURABAYA – Rasa lapar yang memicu emosi atau dikenal dengan istilah hangry (gabungan dari hungry dan angry) bukan sekadar istilah populer di media sosial. Secara medis, kondisi ini berkaitan dengan perubahan kadar gula darah dan respons hormon stres dalam tubuh.
Ketika seseorang melewatkan waktu makan, kadar glukosa dalam darah menurun. Padahal, otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Penurunan ini memicu tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Akibatnya, seseorang bisa merasa gelisah, mudah tersinggung, bahkan marah tanpa sebab yang jelas.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam pedoman gizi seimbang menekankan pentingnya pola makan teratur dan asupan nutrisi yang tepat untuk menjaga kestabilan gula darah. Menahan lapar, baik karena puasa, diet, maupun kesibukan kerja, sebaiknya tidak dilakukan tanpa persiapan asupan yang memadai.
Ahli gizi merekomendasikan konsumsi karbohidrat kompleks seperti gandum utuh, beras merah, dan oatmeal yang dipadukan dengan protein. Jenis makanan ini dicerna lebih lambat sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Sebaliknya, konsumsi gula dan karbohidrat sederhana dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat diikuti penurunan drastis, sehingga memicu rasa lapar kembali dan perubahan suasana hati.
Selain pengaturan pola makan, aktivitas fisik ringan juga dapat membantu meredakan emosi akibat lapar. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) melalui kampanye gaya hidup aktif mendorong masyarakat untuk melakukan peregangan atau berjalan kaki singkat ketika mulai merasa mudah tersinggung.
Aktivitas ringan selama 10–15 menit dapat merangsang pelepasan endorfin, hormon yang berperan sebagai pereda stres alami. Gerakan fisik juga membantu mengalihkan perhatian dari rasa lapar yang mengganggu konsentrasi.
Teknik pengelolaan emosi seperti pernapasan dalam juga efektif diterapkan. Praktikkan jeda beberapa detik saat emosi muncul dengan menarik napas dalam melalui hidung, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan melalui mulut. Teknik ini membantu menurunkan detak jantung dan memberi waktu bagi otak bagian rasional untuk mengendalikan respons emosional.
Pada akhirnya, mengelola rasa lapar dan emosi membutuhkan kesadaran terhadap sinyal tubuh. Dengan pola makan yang tepat dan manajemen stres yang baik, seseorang dapat tetap produktif tanpa mudah terpancing emosi akibat perut kosong. (*)
