KETIK, TRENGGALEK – Misi besar Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Trenggalek, Doding Rahmadi dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2027, yakni masuk papan tengah dalam perolehan medali bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini berkaca pada perolehan medali pada Porprov 2025, di mana Trenggalek berada dalam posisi juru kunci.
Ini artinya, butuh gebrakan dan inovasi baru untuk mewujudkan target tersebut. Salah satunya adalah memetakan cabang olahraga (Cabor) unggulan untuk dioptimalkan dalam perolehan medali.
Kemudian, KONI juga harus berani mendatangkan tim pemandu bakat atau Talent Scouting. Tujuannya adalah untuk melihat potensi dan kelayakan atlet yang akan diterjukan pada even dua tahunan tersebut. Lalu seberapa pentingkah Talent Scouting tersebut?
Tim pemandu bakat bukan hanya mencari atlet potensial, tapi juga menganalisa hasil pantauan di lapangan. Tujuannya untuk mengumpulkan data-data atlet yang potensial. Tak terkecuali berkolaborasi dengan guru-guru olahraga di sekolah untuk mengukur prestasi, minat dan bakat para pelajar.
Selain itu, tim pemandu bakat juga berperan aktif dalam memantau kesehatan, gizi, dan kondisi fisik atlet. Harapannya agar memunculkan atlet-atlet baru yang berbakat dan meningkatkan kualitas para atlet yang ditargetkan bisa menyumbangkan pundi-pundi medali.
Untuk bisa mewujudkannya tentu perlu persiapan yang matang dengan mengidentifikasi Cabor-cabor yang akan dikirim ke Porprov. Pendeknya, atlet-atlet yang dikirim benar-benar atlet yang siap secara fisik maupun mental bertanding.
Tim pemandu bakat bukan hanya mencari atlet, melainkan juga mengevaluasi akan sikap (attitude), karakter, dan akuntabilitas pemain. Termasuk memberikan laporan mengenai kekuatan dan kelemahan lawan dari berbagai daerah, baik kota ataupun kabupaten.
Tentu ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi KONI Trenggalek. Selain ini mungkin sesuatu yang baru, tapi diakui atau tidak tim pemandu bakat merupakan otak atau aktor intelektual akan keberhasilan Cabor dalam meraih prestasi. Tentu tidak kalah penting peran sentral sang pelatih.
Secara finansial mungkin agak mengganggu dengan keterbatasan anggaran, namun ini tetap harus dilakukan jika ingin memberi warna baru prestasi Trenggalek di Porprov. Sehingga, tidak hanya sekedar tampil tapi juga ada target yang realistis. Apalagi Trenggalek sangat dikenal dengan istilah gudangnya atlet. Mulai dari Pencak Silat, Senam, Sepak Takraw, Catur, Panahan, Tenis Meja, dan Cabor lain yang masih mungkin untuk dioptimalkan.
Capaian buruk di dua gelaran Porprov menjadi catatan penting bagi para elit di Trenggalek. Apakah itu Pemkab, DPRD, atau pihak-pihak lain yang terkait. Pasalnya, ada sisi tanggungjawab moral dalam hal memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Ini hal penting yang harus segera dicarikan jalan keluar.
Sekarang tinggal bagaimana sang nakhoda baru KONI yang merupakan orang nomor satu di DPRD Kabupaten Trenggalek. Tidak cukup hanya meletakkan tata kelola berorganisasi tapi lebih dari itu adalah sebuah prestasi. Jika saja pada gelaran ketiga masih belum bisa keluar dari posisi juru kunci tentu ini akan menjadi sebuah tamparan.
Meski terasa berat, amanat terlanjur diemban, visi misi telah dicanangkan. Tentu tidak ada kata lain selain berubah dan berubah dari posisi juru kunci dan masuk di papan tengah. Semoga. (*)
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
