Apakah bahagia itu terjadi ketika—atau setelah—kebutuhan dan keinginan tercapai atau terpenuhi?
Masalahnya, tiap orang punya keinginan dan kebutuhan yang beda-beda. Meski demikian ada kebutuhan yang sifatnya universal atau berlaku untuk rata-rata orang. Misal: Makan-minum dan kebutuhan seksual, misalnya.
Makan-minum adalah kebutuhan yang paling dasar. Dibanding kebutuhan seksual, misalnya, tak makan-minum dua bulan kita tak akan mati. Tapi kalau tak berhubungan seksual dua bulan, bahkan bertahun-tahun, orang tidak akan mati.
Saat rasa lapar datang dan tidak ada makanan, tubuh lemas. Saat lapar, pikiran gampang emosi. Setelah makan, kenyang, apalagi merokok bagi yang suka rokok, rasanya bahagia. Tenang, tentram.
Kata seorang teman yang perokok, sehabis makan enak dan pakai sambal pedas, lalu merokok, itu nikmatnya luar biasa. Bahkan muncul ucapan dari mulutnya: “Nikmat apalagi yang kau dustakan?”
Hanya saja manusia bedanya dengan binatang. Ia bisa berpikir. Pikiran yang di dalamnya ada imajinasi dan membangun pemaknaan serta konsepsi diri yang bisa ditata dan dikelola, akan mampu memaknai realitas dengan yang bisa berdampak untuk menunda atau mendahulukan mana kebutuhan fisik dan non-fisik.
Di bulan puasa misalnya, karena pikiran sudah mengkonsepsikan bahwa makan harus ditunda. Dan konsep-konsep puasa ini diisi dengan janji-janji pahala yang tersetting dalam pikiran dan perasaan (sebagai sebuah bangunan keyakinan).
Maka tidak makan sepanjang jam-jam yang diatur dalam doktrin puasa ya bisa saja membuat orang bahagia atau setidaknya kebahagiaan harus dihadirkan agar bisa menuju bangunan konsep yang sudah ditata dan dibangun dalam diri.
Pemaknaan sudah dibuat sejak awal, dalam sebuah ajaran. Maka, menjalainya adalah sebuah kebahagiaan, meskipun ritualnya adalah membiarkan lapar terjadi, dan rasa lapar ini akan diakhiri pada waktu yang sudah ditentukan oleh syariat. Ya, artinya pemenuhan kebutuhan makan, minum, dan lain-lainnya ditunda dulu.
Ya, pada kenyataannya, puasa secara fisik adalah penundaan kebutuhan atau mengatur ulang jadwal makan-minum dan kebutuhan badaniah.
Secara spiritual ia bisa dinarasikan seindah mungkin sebagai bagian dari nilai-nilai yang dilahirkan dari pemaknaan dalam konsep religi yang sudah diatur dalam narasi yang tersebar bagi kaum yang menjalankannya.
Tapi dapat dikatakan di sini bahwa tetap ada fakta bahwa apabila kebutuhan terpenuhi orang akan bahagia. Buktinya momen berbuka adalah kebahagian yang besar.
Ia dinanti sedemikian rupa, dirindukan, dan dipersiapkan sedemikian rupa. Kadang ada euphoria dengan menyiapkan menu-menu yang diistimewakan untuk melampiaskan nafsu dan kebutuhan yang tertunda. Saat kebutuhan terpenuhi, jelas ada kebahagiaan.
Akhirnya, sepertinya tetap saja bisa dikatakan bahwa kebahagiaan adalah suatu kondisi perasaan ketika kebutuhan dan keinginan kita terpenuhi. Dan, sekali lagi, keinginan tiap orang bisa berbeda meskipun ada kebutuhan universal yang ada pada setiap orang.
Lantas, apakah kebahagiaan hanya sesimpel itu? Bagi manusia yang merupakan makhluk yang spiritual dan bukan sekedar binatang (baha’im—dalam istilah Al-Ghazali), tentu harus ada pemaknaan pakai akal.
Rasa lapar dan kemudian rasa kenyang yang datang kemudian adalah proses yang harus dimaknai. Sedih dan bahagia, yang silih berganti, dan di antara hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, juga antara manusia dengan alamnya, tentu ada hal-hal yang diambil hikmahnya.
Bagaimana juga dengan posisi Yang Maha Mengatur terhadap kisah-kisah manusia yang selalu ada sedih dan bahagia itu?
Akal lah yang membantu memaknainya. Dimulai dari adanya kontradiksi, adanya masalah, lalu mulai menimbulkan proses berpikir untuk atasi masalah. Lalu menuntun untuk bergerak dan pada saat yang sama atau sebelum dan setelahnya mendorong lahirnya proses memahami hubungan sebab-akibat.
Ketika makanan datang, setelah menanggung rasa lapar dan dahaga, bukan hanya rasa girang menjadi individu yang mampu memenuhi kebutuhannya. Tapi juga menjadi tersambung dengan dunia melalui kesadaran.
Misalnya, makanan, lauk, minuman yang tersaji datangnya dari mana? Lalu ada kesadaran akan hubungan-hubungan sosial: Misal, ada petani yang menanam padi, menanam sayur dan buah.
Bagaimana nasib mereka yang menjadi produsen bahan-bahan makanan yang sudah tersaji ini? Lalu kita merenungkan nasib para petani, juga nasib rakyat Indonesia terutama kalangan bawah dan kelas pekerja.
Lalu bagaimana dengan kebutuhan lainnya? Seks, misalnya.
Berhubungan seks itu enak, saking enaknya menimbulkan adiksi—bagi yang sudah melakukan. Makanya orang-orang yang sudah mengakses pemenuhan seks, khususnya yang legal (dengan pernikahan), dan relasinya stabil didukung oleh kecukupan material di dalam rumah tangga, rata-rata bahagia.
Kebutuhan seksual sudah terpenuhi, bisa makan dengan gizi cukup, punya rumah nyaman, punya waktu luang untuk dimanfaatkan, hubungan suami-istri dan anak-anak baik. Itu adalah basis material yang memungkinkan terjadinya kebahagiaan.
Lalu bagaimana dengan yang jomblo yang di usianya yang sudah cukup belum menikah?
Ya belum tentu mereka tidak bahagia, apalagi mereka yang mampu menyublimasi kebutuhan seksnya, menguapkan kebutuhan libidinal yang ada sehingga mereka tidak terkekang dengan kebutuhan itu.
Mengalihkan dan melupakan—juga tidak membawa diri pada rangsangan-rangsangan seksual seperti menonton film porno.
Mengisi detik-detik hidup dengan luapan hasrat dan energi dalam bentuk pencarian filsafat, estetika, dan kesibukan-kesibukan lainnya yang menghasilkan keindahan selain kegiatan yang bernuansa pemenuhan seksualitas.
Misalnya kesibukan di dunia sastra, memuja keindahan kata-kata dan memahat berbagai keindahan bait, kalimat, dan menyusun alinea-alinea. Itu sebenarnya adalah—kata Sigmund Freud—adalah kegiatan seksual. Kata Kahlil Gibran: Makhluk seksual tertinggi di dunia ini adalah penulis, penyair, seniman.
Ya, anggap saja saat saya menulis ini, ini adalah kegiatan seksual. Sebab, ini sama-sama kegiatan yang merupakan ungkapan hasrat, yang datang dari tubuh saya sendiri yang juga tak terpisahkan dari wilayah libidinal yang ada maupun yang merupakan bagian keseluruhan darinya.
Dan, sekali lagi, manusia punya organ tubuh paling seksi: Otak!
Jadi apa salahnya jadi jomblo? Bagi kalian yang jomblo, tidak akan ada masalah, apalagi sudah mempersiapkan jawaban atas pertanyaan "kapan nikah" di hari lebaran nanti.
*) Nurani Soyomukti merupakan pegiat literasi di Jaringan Muda Keranjingan Ilmu dan Filsafat Quantum Litera Center (QLC) Trenggalek.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi. (*)
