Menurut Imam Al-Ghazali, pada dasarnya meraih kebahagiaan itu mudah karena Allah telah menyediakan segalanya dan telah menciptakan sarana di dunia dan pada diri manusia untuk membantunya mendapatkan kebahagiaan.
Tentunya, kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang melibatkan kesadaran akan kekuasaan Allah sebagai kekuatan yang memberikan segalanya, yang harus dipatuhi perintah-perintah-Nya dan dijauhi larangan-larangan-Nya. Kenikmatan yang didapat harus membuat manusia semakin dekat dengan Allah, bukan malah menjauhkan manusia dari-Nya.
Bersenang-senang dan menghabiskan waktu untuk mengejar kesenangan yang membuat manusia lupa dengan Allah bukanlah kebahagiaan sejati. Bahkan menekan nafsu dan keinginan juga merupakan suatu kebahagiaan karena hal itu bisa mengarahkan manusia untuk memperoleh kesadaran yang lebih tinggi.
Orang yang berpuasa, yang menekan kebutuhan makan-minum dan berhubungan badan selama melakukannya, juga bisa bahagia karena hal itu disadari sebagai bagian dari syariat Allah yang harus dijalankan.
Orang yang tidak kaya raya sekalipun juga bisa bahagia karena ia menyadari bahwa ada keadaan yang memang sudah diatur Allah dengan hukum-hukum sebab-akibat di dunia di bawah kendali-Nya.
Orang miskin, yang sadar pada kehidupan dengan bantuan akal sehat dan rasa syukur yang kuat, tidak akan melihat kemiskinan sebagai penyebab kerusakan moral dan kejahatan. Ia tetap berjuang mengatasi kesulitan hidup, tapi ia tidak tergoda untuk menjadi orang yang menempuh perjuangan hidup dengan cara yang dilarang Allah.
Misalnya, pejabat yang tidak bisa naik mobil, karena memang tidak punya uang untuk membeli mobil, tidak merasa iri dengan pejabat lainnya yang naik mobil. Pejabat yang menerima keadaan ini tidak tergoda untuk mencuri uang Negara, karena tahu bahwa hal itu adalah tindakan yang dilarang Allah dan bertentangan dengan hukum moral Negara.
Tidak ikut mencuri uang Negara seperti pejabat lainnya, ia tetap bahagia, Dan akan lebih bahagia lagi ketika ia bisa mengajak teman-teman pejabat lainnya agar tidak tergoda untuk berbuat menyimpang, dan bisa mengajak agar menjadi pejabat yang baik.
Katakanlah seorang pemimpin lembaga pemerintahan yang dengan kemampuannya ia mampu mempengaruhi anak buahnya untuk mengarahkan lembaganya menjalankan fungsi-fungsi yang maksimal dan sesuai dengan spirit agama maupun spirit pelayanan publik dan tugas Negara.
Dengan tidak keampuannya mengendalikan keinginan-keinginan badaniyah dan merasa bersyukur bahwa ternyata ia diberi tugas untuk melayani rakyat, ia pun mendapatkan kebahagiaan.
Semakin bertambah fungsinya untuk bisa memaksimalkan pelayanannya, ia kian bahagia. Dan hal itu disadari sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri pada Allah, maka menurut Imam Al-Ghazali itulah kebahagiaan yang sejati.
Artinya, dalam keadaan apapun dan memiliki capaian seberapapun, tidak rendah diri dan rendah hati—tidak juga bersedih. Kebahagiaan yang berbasis rasa syukur biasanya dibangun dengan tidak selalu mencari kekurangan diri, tapi memahami dan menyadari bahwa masih ada sisi lain dari kita yang bisa membuat kita berarti. Merasa berarti memang merupakan basis eksistensi, tanpa itu orang tidak akan bahagia.
Pengalaman yang saya alami, rasa percaya diri dan perasaan punya arti itu memang penting. Kalau kita bisa menyadari bahwa tiap manusia pasti ada sisi kurang dan lebih, dan menyadari bahwa kita masih punya hal lain yang dibanggakan meskipun untuk hal lainnya kita gagal, tentunya basis material kebahagiaan itu ada.
Misalnya, memang sekilas ada perasaan menyesal ketika saya melihat fakta bahwa saya masih S1 dan saya gagal memperoleh gelar S2. Saya pernah kuliah S2 tapi tidak sampai lulus karena keadaan yang sebenarnya saya bisa atasi tetapi saya merasa malas untuk mengatasinya. Tapi saya tidak rendah diri, tidak sedih—apalagi sedih seumur hidup.
Karena saya juga berhasil menyadari bahwa saya juga masih merasa punya hal lain yang tidak mampu dicapai orang lain. Contohnya, saya sudah menulis lebih banyak buku dibanding orang-orang yang bahkan sudah S3 dan profesor. Bahkan saya pernah menuliskan buku orang—jadi “ghost-writer” yang ingin memiliki buku sebagai syarat agar lolos jadi profesor.
Kesadaran ini, naluriah dan manusiawi. Yang diperlukan adalah upaya mengendalikan diri agar kita tidak sombong. Bahwa capaian kita—hal yang tidak bisa dicapai orang lain—itu kita sadari, hal itu semata sebagai sokongan psikologis agar kita masih merasa ada dan eksis. Agar tidak hilang basis psikologis bagi munculnya kebahagiaan. Bukan untuk sarana menyombongkan diri.
Sepanjang orang bisa menyadari bahwa dalam hidup ini Tuhan telah menciptakan berbagai kemungkinan sesuai kehendaknya, dan tiap orang diberi kelemahan dan kelebihan masing-masing (sebagai ujian), maka perasaan bersyukur itu akan selalu muncul. Apalagi ada kesadaran bahwa “rencana Tuhan” itu adalah rahasia, dan kita masih bisa terus berusaha dan ada harapan, maka perasaan kecil hati itu tak akan dominan.
Rasa penyesalan juga tak akan terlalu dominan jika kita menyadari bahwa hidup kita masih bisa kita ubah. Penyesalan, kalau terlalu dipelihara, tentu akan membuat rasa bahagia hilang. Menyesal, kecewa, marah, iri, terlalu obsessional dan tidak sabar—ini adalah jenis-jenis perasaan yang berbeda dengan kebahagiaan.
Beda dengan merasa berharga dan dihargai, memiliki harapan, merasa dibersamai dan disukai (dan dicintai), merasa bisa bermanfaat dan menghasilkan (produktif-kreatif)—yang merupakan sumber-sumber penyusun rasa bahagia.
Kebahagiaan itu basisnya adalah produktivitas dan keterhubungan dengan orang lain. Kita menghasilkan, punya sesuatu yang bermanfaat (memberikan cinta), disukai dan dicintai, tidak tergantung dan tidak jadi orang yang merugikan orang lain—inilah kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
Dan kalau hal ini disadari oleh upaya mendekatkan diri dengan Allah—menurut Imam Al-Ghazali, itulah kebahagiaan sejati. Dalam kacamata agama Islam, memang kuncinya adalah melibatkan kesadaran akan keterlibatan Allah secara terus-menerus.
Tapi, yang jelas kebahagiaan sejati adalah jika kita mampu menjadi manusia yang bermanfaat. Makanya dalam Islam, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (khoirunnas anfauhum linnas). Hidup memang harus diarahkan ke sini agar kita bahagia. Bermanfaat bagi orang lain itu otomatis akan mendatangkan kebahagiaan.
Pertama, kita jelas produktif. Bagaimana kita bisa bermanfaat jika kita tidak memberikan ‘benefit’ pada orang lain. Kedua, sebagai konsekuensinya, kita akan disukai dan paling tidak tidak dimusuhi. Orang yang hanya tergantung biasanya dianggap “benalu”. Itu posisi tidak disukai. Bahkan kalau ketergantungannya mengarah pada merusak atau merugikan orang lain, jelas mereka akan dianggap sebagai “sampah masyarakat”.
Baik, bermanfaat, bahagia adalah situasi yang diharapkan oleh ajaran agama. Negeri yang “thayib”, baik dan membahagiakan, barokah, dan penuh ampunan, minim dosa-dosa di antara masyarakatnya—yang diistilahkan dengan Negara yang “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”.
Kita pasti akan beruntung jika hidup di negeri semacam ini—atau sedang berada di fase masyarakat seperti itu. Bayangkan, masyarakat yang baik, orang-orangnya hidup bahagia karena berkecukupan secara ekonomi, saling membantu, pemimpinnya memberi dan melindungi—bukan menjahati rakyatnya dengan cara mencuri uang rakyat dan bekerja dengan para perusak lingkungan.
Karena ekonomi cukup, ibadah dan mendekatkan diri pada Tuhan juga bisa dilakukan dengan baik karena ketertekanan hidup hilang, kesadaran spiritualitas meninggi (penuh) dan bukan sebatas situasi sebagai pelarian dari kesengsaraan. Sudah hidup enak tidak ditindas elitnya, pun akibatnya bisa menyiapkan pahala untuk kehidupan surga. Bayangkan kalau kita hidup dalam situasi masyarakat seperti itu.
Celakanya, unfortunately, kita hidup di tengah situasi di mana para pemimpin dan elit mengendalikan arah masyarakat dengan penuh dosa. Dan kita yang dipimpin tentu saja juga akan terpengaruh oleh dosa-dosa. “Kemiskinan mendekatkan orang dengan kekufuran!”—kata nabi dalam sebuah hadis.
Karena banyak orang yang berada dalam situasi ekonomi yang sulit, termiskinkan, dan lahirlah dosa-dosa. Hidup dalam situasi ini, kebahagiaan hilang. Tidak bahagia dunia dan akhirat! Di dunia rugi, susah, di akhirat juga masuk neraka. Betapa sialnya kita!
*) Nurani Soyomukti merupakan pegiat literasi di Jaringan Muda Keranjingan Ilmu dan Filsafat Quantum Litera Center (QLC) Trenggalek.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
